Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Home » Posts filed under puisi
Kamis, 04 April 2013
Rabu, 06 Maret 2013
Lomba Puisi Nasional - IWC 2013
Unknown | Rabu, Maret 06, 2013 | lomba-lomba | puisi Be the first to comment!
SYARAT&KETENTUANLOMBA
- Peserta Warga Negara Indonesia (WNI) baik yang berdomisili di Indonesia maupun diluar Negara Indonesia. Usia 15 tahun sampai dengan 30 tahun.
- Memiliki Identitas diri berupa; KTP/SIM/Kartu Mahasiswa/Kartu Pelajar/Paspor, dll.
- Tema Lomba Puisi 2013; "CERITA INSPIRATIF" dengan SubTema; Cinta, Persahabatan, Budaya, Pahlawan, Dll.
- Peserta adalah perorangan (individu).
- Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirim naskah sebayak 5 karya.
- Karya yang diikutsertakan harus merupakan hasil karya orisinil dari peserta kompetisi menulis lomba puisi IWC 2013 dan bertanggung jawab penuh terhadap hasil karyanya tersebut apabila dikemudian hari ditemukan adanya plagiasi (plagiat).
- Karya belum pernah dipublikasikan sebelumnya di penerbit indie maupun major, apabila hanya diposting dimedia elektronik seperti blog/notes facebook diperbolehkan mengikuti lomba IWC 2013. Dewan Juri berhak mendiskualifikasi jika menemukan karya puisi yang pernah dipublikasikan sebelumnya di penerbit indie maupun major.
- Panitia berhak menyeleksi semua tulisan yang masuk dan berhak tidak mempublikasikan tulisan yang mengandung unsur SARA, RAS, Porno, atau unsur lain yang dinilai kurang pantas dan kurang sesuai dengan etika dan serta melanggar terhadap segala perundang-undangan yang berlaku.
- Peserta membebaskan Otack menagement dan media partner serta perusahaan atau pihak-pihak manapun yang berhubungan dengan penyelenggaraan kompetisi/lomba ini dari segala bentuk tuntutan dari pihak-pihak lain tersebut terkait dengan hasil karya peserta yang diikutsertakan di dalam lomba.
- Apabila di kemudian hari peserta melakukan pelanggaran atas ketentuan dan persyaratan lomba tertulis, dan terbukti merupakan karya plagiat/bukan hasil karya peserta sendiri, pemberian data yang keliru dan/atau tidak benar, maka peserta akan didiskualifikasi.
Selasa, 05 Maret 2013
Mengenal puisi bagian 1
Unknown | Selasa, Maret 05, 2013 | puisi | serba-serbi Be the first to comment!
Puisi
Dari
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Puisi (dari bahasa Yunani kuno: ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I
create) adalah seni tertulis
di mana bahasa digunakan
untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.
Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan
penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi
dari prosa.
Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli modern memiliki
pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi
sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas.
Selain itu puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang membawa orang
lain ke dalam keadaan hatinya.
Baris-baris pada puisi dapat berbentuk apa saja
(melingkar, zigzag dan lain-lain). Hal tersebut merupakan salah satu cara penulis untuk
menunjukkan pemikirannnya. Puisi kadang-kadang juga hanya berisi satu kata/suku kata yang terus
diulang-ulang. Bagi pembaca hal tersebut mungkin membuat puisi tersebut menjadi
tidak dimengerti. Tapi penulis selalu memiliki alasan untuk segala 'keanehan'
yang diciptakannya. Tak ada yang membatasi keinginan penulis dalam menciptakan
sebuah puisi. Ada beberapa perbedaan antara puisi lama dan puisi baru
Namun beberapa kasus mengenai puisi modern atau puisi
cyber belakangan ini makin memprihatinkan jika ditilik dari pokok dan kaidah
puisi itu sendiri yaitu 'pemadatan kata'. kebanyakan penyair aktif sekarang
baik pemula ataupun bukan lebih mementingkan gaya bahasa dan bukan pada pokok
puisi tersebut.
Didalam puisi juga biasa disisipkan majas yang membuat
puisi itu semakin indah. Majas tersebut juga ada bemacam, salah satunya adalah sarkasme yaitu
sindiran langsung dengan kasar.
Dibeberapa daerah di Indonesia puisi
juga sering dinyanyikan dalam bentuk pantun. Mereka
enggan atau tak mau untuk melihat kaidah awal puisi tersebut.
Kamis, 05 Juli 2012
puisi pemenang pertama lomba cipta puisi FOSIL 2012 (via facebook)
Unknown | Kamis, Juli 05, 2012 | puisi Be the first to comment!RENTETAN SEMUT BERSENJATA
karya Ridha Ayah Bunda Aeni
Tangan menggenggam senapan
Anak panah tertancap diujung tombak badan tergeletak
Bius bom atom meracuni setiap pandang mata curam
Lihatlah!
Rentetan semut bersenjatapun gugur
Tubuh berderai berlumpur darah, berteriak; merdeka tanpa penjajah
Tunas-tunas telah tumbuh
Penghianat harus musnah melepuh
Kobarkan debur juang; rentetan semut bersenjata
Tanah subur, air surga
Genggamlah erat persatuan nusa bangsa
Berdiri kokoh diatas kibar bendera
sumber http://sajakharapan.wordpress.com/2012/07/04/puisi-pemenang-pertama-lomba-cipta-puisi-fosil-2012-via-facebook/
Senin, 02 Juli 2012
Dulu, sastra pernah berkata padaku oleh Alfandi
Unknown | Senin, Juli 02, 2012 | puisi Be the first to comment!Tempat duduk misteri.
Dalam keramaian sunyi.
Selalu saja sepi dan sendiri.
Sastra adalah kaca.
Mencerminkan sebuah jiwa.
Tenang dalam pelayaran.
Mencari jati diri sebenarnya.
Sastra pernah berbisik padaku.
“jaga kursi ini..
Inilah jati dirimu.
Engkau adalah kursi.
Jaga kesendirianmu.
Karena engkaulah kursi!”
sumber http://sajakharapan.wordpress.com/2012/04/26/dulu-sastra-pernah-berkata-padaku/
Minggu, 01 Juli 2012
fragmen pulau hitam oleh Dwi Raharioso
Unknown | Minggu, Juli 01, 2012 | puisi Be the first to comment!
Sepenggal Bulan di Langit Desember
:L’internationale instrument
Kami mendengarmu, suara bulan yang separuh
Di antara ranting pohon yang tak lagi utuh
Kotamu telah begitu jauh, ke seberang teluk ini
Kami harus bersampan di hari yang gelap
Ketika semua harus mengendap
:L’internationale instrument
Kami mendengarmu, suara bulan yang separuh
Di antara ranting pohon yang tak lagi utuh
Kotamu telah begitu jauh, ke seberang teluk ini
Kami harus bersampan di hari yang gelap
Ketika semua harus mengendap
Sabtu, 30 Juni 2012
Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta
Unknown | Sabtu, Juni 30, 2012 | puisi Be the first to comment!Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban
Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban
penggalan subtil; jika aku mati oleh Dwi raharioso
Unknown | Sabtu, Juni 30, 2012 | puisi Be the first to comment!
Jika aku mati
jika aku mati kelak, tidak ada yang tertinggal untuk kuwariskan, selain puisi ini
jika aku mati kelak, saat itulah aku bertemu sepi yang sesungguhnya
dan pelahan-lahan kau melupakanku
jika kelak aku tak ada lagi di sini,
maka kuburlah puisi ini dalam deras hujan yang turun diam-diam
Jika aku mati kelak dan kau masih mengingatku
Maret 2012
Tentang Hujan
aku mendengar sepi berjatuhan dalam hujan
seperti tak tertahan
warna hitam dan segala yang terlepaskan,
hanyalah diriku
dingin udara nafasku
adalah sepenggal bait pendek tanpa pintu
tanpa rindu
aku mendengar hujan sepertiku. Sendiri.
membelenggu
Maret, 2012
Pemahat Pisau
Dengarkan, ia bercerita tentang bara
di sebuah desa terpencil tanpa nama
ketika senja memerah kesumba
Aku telah memahat nasibku
—seumpama empu
dalam sebilah besi dan gagang kayu
maka, kubentuk nasib ini
ke arah maghrib yang sunyi
Kusatukan nubuat ini satu-persatu
tatkala hari kembali dalam warna abu
dan bara membiru
Sejarah adalah senjata—dikuasai luka
maka, kuriwayatkan liku hidupku
serupa hikayat dan tamsil
lihatlah, ujung tajam ini—mengucilmu
dalam suasana yang sentimentil
Dan inilah tubuhku
meruncingmu belaka
hingga hampa benar-benar
kaku tak berwarna
2012
Tuan Kupu-Kupu
Seperti apa lelaki? Katamu, ia diciptakan dari
Penggalan-penggalan sunyi.
Dan ia tidak bertanya, kepada siapa kesenangan
Dituntaskan, melainkan hanya bergema
Dalam sebuah rahasia
Bilamana ia menemukan cinta,
Tiadalah hanya pada pahit kopi dan pekat malam
Belaka. Itulah rumah sesungguhnya.
2012
Cerita Tentang Kotamu
menatap kotamu dalam segelas hujan
lampu-lampu jatuh berpijaran
kenangan yang merembes kesendirian
di antara pintu dan jendela kaca,
warna gelap bertambah samar
kitalah kematian dalam bayang-bayang malam
lalu jatuh,
dilupakan
2012
Penari Topeng
Bebaskan aku, menuju langitmu
sebelum kematian merenggutku
dan fragmen tarian
akan membawaku pulang dari tubuh ini
aku berumah dalam usia
pada nubuat senja
begitu tuhan membaginya lewat angin
debu-debu tubuhku sampai di tanah ini
bebaskan aku, kembali padamu
sebelum hari membakar kayu
dan rindu berubah latu
itulah kenapa bara tak sekekal dulu
sebab aku akan segera pergi
begitu wajahku terisi sunyi
2012
Revolusi
setiap pagi aku mati
dalam letusan-letusan sunyi
radio, buku puisi, senjata, bendera, dan segala yang tak bernama
berwujud peluru
menghentikanku
seorang presiden mengasingkan diri; ketika demonstrasi
begitu tiba-tiba. rakyat hanya tertawa, ketika mahasiswa membakar ban
dan langit menurunkan hujan
aparat memukuli mereka dengan pentungan
aku menelanjangi tubuhku—kaku
2012
fb http://www.facebook.com/dwirahariyoso
jika aku mati kelak, tidak ada yang tertinggal untuk kuwariskan, selain puisi ini
jika aku mati kelak, saat itulah aku bertemu sepi yang sesungguhnya
dan pelahan-lahan kau melupakanku
jika kelak aku tak ada lagi di sini,
maka kuburlah puisi ini dalam deras hujan yang turun diam-diam
Jika aku mati kelak dan kau masih mengingatku
Maret 2012
Tentang Hujan
aku mendengar sepi berjatuhan dalam hujan
seperti tak tertahan
warna hitam dan segala yang terlepaskan,
hanyalah diriku
dingin udara nafasku
adalah sepenggal bait pendek tanpa pintu
tanpa rindu
aku mendengar hujan sepertiku. Sendiri.
membelenggu
Maret, 2012
Pemahat Pisau
Dengarkan, ia bercerita tentang bara
di sebuah desa terpencil tanpa nama
ketika senja memerah kesumba
Aku telah memahat nasibku
—seumpama empu
dalam sebilah besi dan gagang kayu
maka, kubentuk nasib ini
ke arah maghrib yang sunyi
Kusatukan nubuat ini satu-persatu
tatkala hari kembali dalam warna abu
dan bara membiru
Sejarah adalah senjata—dikuasai luka
maka, kuriwayatkan liku hidupku
serupa hikayat dan tamsil
lihatlah, ujung tajam ini—mengucilmu
dalam suasana yang sentimentil
Dan inilah tubuhku
meruncingmu belaka
hingga hampa benar-benar
kaku tak berwarna
2012
Tuan Kupu-Kupu
Seperti apa lelaki? Katamu, ia diciptakan dari
Penggalan-penggalan sunyi.
Dan ia tidak bertanya, kepada siapa kesenangan
Dituntaskan, melainkan hanya bergema
Dalam sebuah rahasia
Bilamana ia menemukan cinta,
Tiadalah hanya pada pahit kopi dan pekat malam
Belaka. Itulah rumah sesungguhnya.
2012
Cerita Tentang Kotamu
menatap kotamu dalam segelas hujan
lampu-lampu jatuh berpijaran
kenangan yang merembes kesendirian
di antara pintu dan jendela kaca,
warna gelap bertambah samar
kitalah kematian dalam bayang-bayang malam
lalu jatuh,
dilupakan
2012
Penari Topeng
Bebaskan aku, menuju langitmu
sebelum kematian merenggutku
dan fragmen tarian
akan membawaku pulang dari tubuh ini
aku berumah dalam usia
pada nubuat senja
begitu tuhan membaginya lewat angin
debu-debu tubuhku sampai di tanah ini
bebaskan aku, kembali padamu
sebelum hari membakar kayu
dan rindu berubah latu
itulah kenapa bara tak sekekal dulu
sebab aku akan segera pergi
begitu wajahku terisi sunyi
2012
Revolusi
setiap pagi aku mati
dalam letusan-letusan sunyi
radio, buku puisi, senjata, bendera, dan segala yang tak bernama
berwujud peluru
menghentikanku
seorang presiden mengasingkan diri; ketika demonstrasi
begitu tiba-tiba. rakyat hanya tertawa, ketika mahasiswa membakar ban
dan langit menurunkan hujan
aparat memukuli mereka dengan pentungan
aku menelanjangi tubuhku—kaku
2012
fb http://www.facebook.com/dwirahariyoso
tamsil perjalanan oleh Dwi Raharioso
Unknown | Sabtu, Juni 30, 2012 | puisi Be the first to comment!
Barangkali Kita Memang Berada di Sebuah Negeri Asing
Kita selalu bertanya di mana ujung hari sebenarnya? Dan kita tak pernah berkata-kata, selain wabah malaria yang merenggut segala perjumpaan. Barangkali memang akan terasa hampa, jika senja seperti tergerus tiba-tiba dan kau tak sempat melambaikan tangan. Maka, akan terdengar angin yang luruh, menyerah. Di daerah perbatasan antara hutan dan setapak, nasib seolah tak beranjak.
Rumputan dan padang kelabu, suram dalam warna tak tentu. Mengenang dermaga kecil yang jauh—di lereng bukit itu. Aku berkata padamu, kebahagiaan adalah masa lalu yang disamarkan gelombang pada dinding batu-batu. Juga sepucuk kartu pos buram yang terselip di dalam noken, entah siapa yang mengirimnya. Barangkali dari negeri letih tak bernama, atau seorang pengembara yang tersesat—kerapkali kita mabuk romansa. Dan tiang-tiang dermaga telah patah oleh dingin, ditinggalkan nubuat yang ingkar pada angin.
Lalu, apa sebenarnya rindu dalam pekat ini? Barangkali hanya namamu yang merasukku. Hingga akhirnya masing-masing kita tak ada, tak pernah ada untuk ingatan. Juga sebait syair perpisahan, tentang tanda, bekas, jejak, sisa, dan fana.
Maghrib sayup-sayup meresap, seperti mengingatkan tentang revolusi. Dan kau tak bergeming dalam hening. Hutan-hutan gerilya tak lagi terjaga, gerimis turun tiba-tiba. Di jalan setapak, bergegas kutinggalkan dermaga. Gelap ini benar-benar tak bernama.
Sorong, 2012
Nukilan Mei
Aku menyerupai danau dalam biru semata; damai yang fana
kugambarkan burung-burung terbang dan ranting-ranting menjulang hampa
ketika daun-daun gugur tanpa warna
Sungguh, aku tak pernah melihat surga atau apapun keindahan sebenarnya
terkecuali lukisan belaka, warna-warna itu berubah nyeri
di musim yang senyap; kosong mengubur diri
Aku, akar, pohon, dan akanan hanyalah kenangan
di wajahku yang sunyi dan beku, musim membekas diam-diam
dan lupa adalah kegetiran jika langit berangsur malam
Dan di beberapa akhir sajak, pohon-pohon itu lekas mati
memutih di tepi danau yang beku
—aku sudah tidak ada, di situ bersamamu
Mei 2012
Kelahiran
Kita telah berdoa dalam sebuah nama, seperti Tuhan menyeru hambanya
di tembok dan kitab, mereka mencatatnya
—sejarah adalah nostalgia nama-nama
dalam huruf yang disucikan dan dikucilkan; sebuah kejadian bermula
dan darimanakah ia berasal?
di sebuah gua tak bernama, ia menjelma—senyap
lalu dalam dengus dan udara terbata
kedua tangannya meminta,
“Alangkah dingin dunia ini!” ia merintih, berpilin, menggeliat,
ketika ia gelisah, hari berubah basah
dan jendela kosong tanpa udara
Kemudian, di kesunyian, orang-orang tua membacakan sajak
tentang nama-nama kepergian
mereka lekas berangkat dalam gugup yang kesekian
dan tak ada seorang pun menduga
2012
Rumah Pulau
Buat Aniku
Aku berumah pada sesak dan ombak
Di hamparan pasir tanpa karang; putih belaka
“Singgahlah, hai pengembara
Sebelum hari terasa suram, tajam mendesak”
Hanya gerimis sederhana yang kutawarkan
Juga beberapa kasbi dan segelas kopi
Dan udara semakin nihil kukira
Berhembus gigil dari arah jendela
—tak ada lagi cinta bagi mereka yang tua
Selebihnya sepi dalam sisa nostalgia
Setiap kali gelap memikat, di sanalah segala riwayat
Bersemayam atau berangkat, kita tidak mengerti
“Ah, hidupku sekedar menghabiskan sajak
Terkubur dalam bayang-bayang”
Tak ada yang terjadi lagi di sini
Terkecuali kesepian yang mengerak
Dan semakin menghilang
Mei, 2012
Pala
Di tanah-tanah tinggi dan teluk sunyi ini
Kapal dan sampan para syahbandar mengangkut ikan-ikan
Berderak dari burit hingga haluan
Lambaikan tangan pada bayangmu, kawan!
Kau akan singgah dan mendarat di tanah ini
Beberapa kedai kopi dan obrolan pengisi hari
Selalu hadir sepanjang pantai
Dengarlah, suara teluk yang memeluk kapal-kapal
Pertanda hari telah tua dan usang di ujung sana,
Udara mendadak dingin dan kita kunyah beberapa pinang
Semacam kenangan; obrolan-obrolan nelayan, amis ikan,
Dan juga senja yang kian melembayung-saga
Masihkah kita menjadi pengembara? Ah, kita teramat tua
Mengingatnya. Kopi dan kerinduan musim semi,
Adalah kepulangan bagi pulau ini
Pohon-pohon pala yang berwarna tembaga
Berpendar dalam cahaya senja, dan suar menara
Sebenarnya merayakan hidup bukanlah hal yang sia-sia
Aroma itu tercium hingga ujung beludru para pedagang eropa
—hikayat, rempah, tenun, kitab-kitab, kopi, ikan, ukiran, lanskap
Adalah riwayat nenek moyang kami berabad-abad lampau
Jauh sebelum para syahbandar barat mengembangkan layar
Ekspedisi mereka semacam praduga tentang rindu dan risau
Hingga laut menunjukkan mereka teluk ini, lewat pendar menara suar
Singgahlah, dalam senyap ini
Dalam ketuaan, kita tak lagi mengimpikan revolusi
Biarkan anak-anak itu yang bergegas melempar jangkar besi
Hingga para pedagang merapatkan kapal ke syahbandar
Butir-butir pala diangkut kapal-kapal besar dan tak pernah ada kabar
Di mana mereka menimbunnya?
Hari berangkat sepi, seperti getir belaka
Dan teluk masih terasa sejuk, ia seolah berkata lirih:
Inilah kampung halaman pengembara kabut
Kita sudah memutih, dan kerut-kerut kulit ini
Adalah senyum ketabahan yang sunyi
Setiap kali ada yang pergi tak kembali
Biarkan kami sendiri!
Sorong, Mei 2012
Di Sebuah Rumah
Di sebuah rumah—entah milik siapa,
Kita seperti pengembara yang hibuk tersesat arah angin,
Arah kiblat berubah pekat dan udara semakin dingin
Kita tak mengetuk pintu, bahkan mengucap salam
Sebab kita hanyalah sepasang diam—dalam jasad ini
Dan rindu tidak tenggelam menjadi sunyi
Di dinding papan itu menggantung lukisan tentang danau kering, sampan,
Udara dingin, serta kalender usang yang kehilangan hari liburnya
Siapa kita sebenarnya, mengapa kita saling mengingat
Kenangan ibarat pintu dengan engsel berkarat, kita teramat hati-hati
Menduga segala isyarat—kau dan aku, tak pernah sepakat bahwa kita hanyalah
Sepasang pengagum kesepian dalam sebuah kematian
Dari arah jendela, angin bersiur hampa
Hari sejenak senja dalam tiba-tiba
Segala nostalgia menembus sia-sia
Di sebuah rumah, dalam sejarah masa lalu tubuh kita
Barangkali akan kita ingat sunyi yang tersesat oleh hampa
Dan suara jam begitu baka
Akankah kita bergegas dalam sunyi?
Dan udara menggigil. Semua terasa ganjil
Kita hanyalah kabut yang segera lenyap, di suatu sudut terpencil
Mei, 2012
Tamsil
Dalam keheningan kata-katamu menjelma unta padang pasir
memuji sunyi yang silih berganti, dan larik-larik hangatmu menemukan kabutku
yang menyatu dalam hati setiap lelaki
Aku mendengar bisikmu melewati bukit-bukit biru, samudera sepi, dan sejumlah
pemburu yang tersesat di gurun hakekat—bulan runcing inikah isyarat?
Dan para muadzin yang terjaga membangunkan waktu, pasir, batu, ilalang, perdu;
langit ini adalah baka dalam tanda kuasaMu, terkecuali imam sesungguhnya
Lantas kulafalkan setiap kekal ke dalam kematian, begitu seterusnya
seperti sisa-sisa kerak yang menjelma debu dan memasuki tanah
2012
Kawah
dinding-dinding batu, hawa dingin menyatu
lanskap membiru
dan debu-debu menjadi sunyi
di pundak para pemikul batu
hari kembali pagi
menyatu dengan kabut
seperti daun bersemi
melupakan maut
Mei, 2012
Pertemuan
Barangkali kita tak lagi bertanya tentang kenangan, atau percakapan-percakapan senja, semua telah menjelma masa lalu; asing dan getar.
Barangkali waktu pun berubah senyap, ditikam malam yang tiba-tiba lenyap.
Kita tahu, pergi adalah nubuat tentang nasib, tentang segala pahit.
Hingga akhirnya kita pun mulai ingkar pada senja yang samar
Mei, 2012
Ketika Hujan Turun
Aku meminum kopiku ketika hujan menjadi kaca jendela
Dan membisikkan rintik-rintik berirama tentang dunia yang hampa
Lalu kutemukan dua baris puisi lama, membacanya bersama sepi
Seolah ketakutan berkobar di penjuru negeri
Tapi inilah revolusi—sesuatu yang diperjuangkan
Sebelum kematian, menggantikan kenangan
Dan hujan akan kembali deras
Menjadi dingin yang membekas
2012
Kita selalu bertanya di mana ujung hari sebenarnya? Dan kita tak pernah berkata-kata, selain wabah malaria yang merenggut segala perjumpaan. Barangkali memang akan terasa hampa, jika senja seperti tergerus tiba-tiba dan kau tak sempat melambaikan tangan. Maka, akan terdengar angin yang luruh, menyerah. Di daerah perbatasan antara hutan dan setapak, nasib seolah tak beranjak.
Rumputan dan padang kelabu, suram dalam warna tak tentu. Mengenang dermaga kecil yang jauh—di lereng bukit itu. Aku berkata padamu, kebahagiaan adalah masa lalu yang disamarkan gelombang pada dinding batu-batu. Juga sepucuk kartu pos buram yang terselip di dalam noken, entah siapa yang mengirimnya. Barangkali dari negeri letih tak bernama, atau seorang pengembara yang tersesat—kerapkali kita mabuk romansa. Dan tiang-tiang dermaga telah patah oleh dingin, ditinggalkan nubuat yang ingkar pada angin.
Lalu, apa sebenarnya rindu dalam pekat ini? Barangkali hanya namamu yang merasukku. Hingga akhirnya masing-masing kita tak ada, tak pernah ada untuk ingatan. Juga sebait syair perpisahan, tentang tanda, bekas, jejak, sisa, dan fana.
Maghrib sayup-sayup meresap, seperti mengingatkan tentang revolusi. Dan kau tak bergeming dalam hening. Hutan-hutan gerilya tak lagi terjaga, gerimis turun tiba-tiba. Di jalan setapak, bergegas kutinggalkan dermaga. Gelap ini benar-benar tak bernama.
Sorong, 2012
Nukilan Mei
Aku menyerupai danau dalam biru semata; damai yang fana
kugambarkan burung-burung terbang dan ranting-ranting menjulang hampa
ketika daun-daun gugur tanpa warna
Sungguh, aku tak pernah melihat surga atau apapun keindahan sebenarnya
terkecuali lukisan belaka, warna-warna itu berubah nyeri
di musim yang senyap; kosong mengubur diri
Aku, akar, pohon, dan akanan hanyalah kenangan
di wajahku yang sunyi dan beku, musim membekas diam-diam
dan lupa adalah kegetiran jika langit berangsur malam
Dan di beberapa akhir sajak, pohon-pohon itu lekas mati
memutih di tepi danau yang beku
—aku sudah tidak ada, di situ bersamamu
Mei 2012
Kelahiran
Kita telah berdoa dalam sebuah nama, seperti Tuhan menyeru hambanya
di tembok dan kitab, mereka mencatatnya
—sejarah adalah nostalgia nama-nama
dalam huruf yang disucikan dan dikucilkan; sebuah kejadian bermula
dan darimanakah ia berasal?
di sebuah gua tak bernama, ia menjelma—senyap
lalu dalam dengus dan udara terbata
kedua tangannya meminta,
“Alangkah dingin dunia ini!” ia merintih, berpilin, menggeliat,
ketika ia gelisah, hari berubah basah
dan jendela kosong tanpa udara
Kemudian, di kesunyian, orang-orang tua membacakan sajak
tentang nama-nama kepergian
mereka lekas berangkat dalam gugup yang kesekian
dan tak ada seorang pun menduga
2012
Rumah Pulau
Buat Aniku
Aku berumah pada sesak dan ombak
Di hamparan pasir tanpa karang; putih belaka
“Singgahlah, hai pengembara
Sebelum hari terasa suram, tajam mendesak”
Hanya gerimis sederhana yang kutawarkan
Juga beberapa kasbi dan segelas kopi
Dan udara semakin nihil kukira
Berhembus gigil dari arah jendela
—tak ada lagi cinta bagi mereka yang tua
Selebihnya sepi dalam sisa nostalgia
Setiap kali gelap memikat, di sanalah segala riwayat
Bersemayam atau berangkat, kita tidak mengerti
“Ah, hidupku sekedar menghabiskan sajak
Terkubur dalam bayang-bayang”
Tak ada yang terjadi lagi di sini
Terkecuali kesepian yang mengerak
Dan semakin menghilang
Mei, 2012
Pala
Di tanah-tanah tinggi dan teluk sunyi ini
Kapal dan sampan para syahbandar mengangkut ikan-ikan
Berderak dari burit hingga haluan
Lambaikan tangan pada bayangmu, kawan!
Kau akan singgah dan mendarat di tanah ini
Beberapa kedai kopi dan obrolan pengisi hari
Selalu hadir sepanjang pantai
Dengarlah, suara teluk yang memeluk kapal-kapal
Pertanda hari telah tua dan usang di ujung sana,
Udara mendadak dingin dan kita kunyah beberapa pinang
Semacam kenangan; obrolan-obrolan nelayan, amis ikan,
Dan juga senja yang kian melembayung-saga
Masihkah kita menjadi pengembara? Ah, kita teramat tua
Mengingatnya. Kopi dan kerinduan musim semi,
Adalah kepulangan bagi pulau ini
Pohon-pohon pala yang berwarna tembaga
Berpendar dalam cahaya senja, dan suar menara
Sebenarnya merayakan hidup bukanlah hal yang sia-sia
Aroma itu tercium hingga ujung beludru para pedagang eropa
—hikayat, rempah, tenun, kitab-kitab, kopi, ikan, ukiran, lanskap
Adalah riwayat nenek moyang kami berabad-abad lampau
Jauh sebelum para syahbandar barat mengembangkan layar
Ekspedisi mereka semacam praduga tentang rindu dan risau
Hingga laut menunjukkan mereka teluk ini, lewat pendar menara suar
Singgahlah, dalam senyap ini
Dalam ketuaan, kita tak lagi mengimpikan revolusi
Biarkan anak-anak itu yang bergegas melempar jangkar besi
Hingga para pedagang merapatkan kapal ke syahbandar
Butir-butir pala diangkut kapal-kapal besar dan tak pernah ada kabar
Di mana mereka menimbunnya?
Hari berangkat sepi, seperti getir belaka
Dan teluk masih terasa sejuk, ia seolah berkata lirih:
Inilah kampung halaman pengembara kabut
Kita sudah memutih, dan kerut-kerut kulit ini
Adalah senyum ketabahan yang sunyi
Setiap kali ada yang pergi tak kembali
Biarkan kami sendiri!
Sorong, Mei 2012
Di Sebuah Rumah
Di sebuah rumah—entah milik siapa,
Kita seperti pengembara yang hibuk tersesat arah angin,
Arah kiblat berubah pekat dan udara semakin dingin
Kita tak mengetuk pintu, bahkan mengucap salam
Sebab kita hanyalah sepasang diam—dalam jasad ini
Dan rindu tidak tenggelam menjadi sunyi
Di dinding papan itu menggantung lukisan tentang danau kering, sampan,
Udara dingin, serta kalender usang yang kehilangan hari liburnya
Siapa kita sebenarnya, mengapa kita saling mengingat
Kenangan ibarat pintu dengan engsel berkarat, kita teramat hati-hati
Menduga segala isyarat—kau dan aku, tak pernah sepakat bahwa kita hanyalah
Sepasang pengagum kesepian dalam sebuah kematian
Dari arah jendela, angin bersiur hampa
Hari sejenak senja dalam tiba-tiba
Segala nostalgia menembus sia-sia
Di sebuah rumah, dalam sejarah masa lalu tubuh kita
Barangkali akan kita ingat sunyi yang tersesat oleh hampa
Dan suara jam begitu baka
Akankah kita bergegas dalam sunyi?
Dan udara menggigil. Semua terasa ganjil
Kita hanyalah kabut yang segera lenyap, di suatu sudut terpencil
Mei, 2012
Tamsil
Dalam keheningan kata-katamu menjelma unta padang pasir
memuji sunyi yang silih berganti, dan larik-larik hangatmu menemukan kabutku
yang menyatu dalam hati setiap lelaki
Aku mendengar bisikmu melewati bukit-bukit biru, samudera sepi, dan sejumlah
pemburu yang tersesat di gurun hakekat—bulan runcing inikah isyarat?
Dan para muadzin yang terjaga membangunkan waktu, pasir, batu, ilalang, perdu;
langit ini adalah baka dalam tanda kuasaMu, terkecuali imam sesungguhnya
Lantas kulafalkan setiap kekal ke dalam kematian, begitu seterusnya
seperti sisa-sisa kerak yang menjelma debu dan memasuki tanah
2012
Kawah
dinding-dinding batu, hawa dingin menyatu
lanskap membiru
dan debu-debu menjadi sunyi
di pundak para pemikul batu
hari kembali pagi
menyatu dengan kabut
seperti daun bersemi
melupakan maut
Mei, 2012
Pertemuan
Barangkali kita tak lagi bertanya tentang kenangan, atau percakapan-percakapan senja, semua telah menjelma masa lalu; asing dan getar.
Barangkali waktu pun berubah senyap, ditikam malam yang tiba-tiba lenyap.
Kita tahu, pergi adalah nubuat tentang nasib, tentang segala pahit.
Hingga akhirnya kita pun mulai ingkar pada senja yang samar
Mei, 2012
Ketika Hujan Turun
Aku meminum kopiku ketika hujan menjadi kaca jendela
Dan membisikkan rintik-rintik berirama tentang dunia yang hampa
Lalu kutemukan dua baris puisi lama, membacanya bersama sepi
Seolah ketakutan berkobar di penjuru negeri
Tapi inilah revolusi—sesuatu yang diperjuangkan
Sebelum kematian, menggantikan kenangan
Dan hujan akan kembali deras
Menjadi dingin yang membekas
2012
Senin, 05 Maret 2012
puisi-puisi Taufiq Ismail
Unknown | Senin, Maret 05, 2012 | puisi Be the first to comment!
Sebuah
Lasykar truk
Masuk kota Salatiga
Mereka menyanyikan lagu
‘Sudah Bebas Negeri Kita’
Masuk kota Salatiga
Mereka menyanyikan lagu
‘Sudah Bebas Negeri Kita’
Di
jalan Tuntang seorang anak kecil
Empat tahun terjaga :
‘Ibu, akan pulangkah Bapa,
dan membawakan pestol buat saya ?’
(1963)
Empat tahun terjaga :
‘Ibu, akan pulangkah Bapa,
dan membawakan pestol buat saya ?’
(1963)
BAGAIMANA
KALAU
Bagaimana kalau dulu bukan khuldi
yang dimakan Adam, tapi buah alpukat,
Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat,
Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah,
dan kepada Koes Plus kita beri mandat,
Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi,
dan ibukota Indonesia Monaco,
Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas,
salju turun di Gunung Sahari,
Selasa, 28 Februari 2012
sajak orang kesepian
Unknown | Selasa, Februari 28, 2012 | puisi Be the first to comment!
lampu kota bertahtahkan neon
menerangi pelataran ibu kota
dihiasi pula bus kebanggaan kota
yang dengan rajin hilir mudik
di depan hidung ku
aku termenung,
di kala haritelah beranjak larut
di kala keramaian semakin tampak
dan atraksi kota pun mulai dipentaskan
menerangi pelataran ibu kota
dihiasi pula bus kebanggaan kota
yang dengan rajin hilir mudik
di depan hidung ku
aku termenung,
di kala haritelah beranjak larut
di kala keramaian semakin tampak
dan atraksi kota pun mulai dipentaskan
Sabtu, 25 Februari 2012
puisi-puisi sutardji calzoum bachri
Unknown | Sabtu, Februari 25, 2012 | puisi Be the first to comment!
ANA BUNGA
Terjemahan bebas (Adaptasi) dari puisi Kurt Schwittters, Anne Blumme
Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri
Oh kau Sayangku duapuluh tujuh indera
Kucinta kau
Aku ke kau ke kau aku
Akulah kauku kaulah ku ke kau
Kita ?
Biarlah antara kita saja
Siapa kau, perempuan tak terbilang
Kau
Kau ? - orang bilang kau - biarkan orang bilang
Orang tak tahu menara gereja menjulang
Kaki, kau pakaikan topi, engkau jalan
dengan kedua
tanganmu
Amboi! Rok birumu putih gratis melipat-lipat
Ana merah bunga aku cinta kau, dalam merahmu aku
cinta kau
Terjemahan bebas (Adaptasi) dari puisi Kurt Schwittters, Anne Blumme
Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri
Oh kau Sayangku duapuluh tujuh indera
Kucinta kau
Aku ke kau ke kau aku
Akulah kauku kaulah ku ke kau
Kita ?
Biarlah antara kita saja
Siapa kau, perempuan tak terbilang
Kau
Kau ? - orang bilang kau - biarkan orang bilang
Orang tak tahu menara gereja menjulang
Kaki, kau pakaikan topi, engkau jalan
dengan kedua
tanganmu
Amboi! Rok birumu putih gratis melipat-lipat
Ana merah bunga aku cinta kau, dalam merahmu aku
cinta kau
puisi-puisi w.s rendra
Unknown | Sabtu, Februari 25, 2012 | puisi Be the first to comment!
Pelacur-pelacur
Kota Jakarta
Dari kelas
tinggi dan kelas rendah
Telah
diganyang
Telah
haru-biru
Mereka
kecut
Keder
Terhina dan
tersipu-sipu
karena
Sesalkan
mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan
kau lewat putus asa
Dan
kaurelakan dirimu dibikin korban
Wahai
pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang
bangkitlah
Sanggul
kembali rambutmu
Karena
setelah menyesal
Datanglah
kini giliranmu
Bukan untuk
membela diri melulu
Tapi untuk
lancarkan serangan
Karena
Sesalkan
mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan
kaurela dibikin korban
Sarinah
Katakan
kepada mereka
Bagaimana
kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana
ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang
perjuangan nusa bangsa
Dan
tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut
kau inspirasi revolusi
Sambil ia
buka kutangmu
Dan kau
Dasima
Khabarkan
pada rakyat
Bagaimana
para pemimpin revolusi
Secara
bergiliran memelukmu
Bicara
tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil
celananya basah
Dan
tubuhnya lemas
Terkapai
disampingmu
Ototnya
keburu tak berdaya
Politisi
dan pegawai tinggi
Adalah
caluk yang rapi
Kongres-kongres
dan konferensi
Tak pernah
berjalan tanpa kalian
Kalian tak
pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran
kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan
yang mengekang
Dan telah
lama sia-sia cari kerja
Ijazah
sekolah tanpa guna
Para kepala
jawatan
Akan
membuka kesempatan
Kalau kau
membuka kesempatan
Kalau kau
membuka paha
Sedang
diluar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan
macet
Lapangan
kerja tak ada
Revolusi
para pemimpin
Adalah
revolusi dewa-dewa
Mereka
berjuang untuk syurga
Dan tidak
untuk bumi
Revolusi
dewa-dewa
Tak pernah
menghasilkan
Lebih
banyak lapangan kerja
Bagi
rakyatnya
Kalian
adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan
Namun
Sesalkan
mana yang kau kausesalkan
Tapi
jangan kau lewat putus asa
Dan kau
rela dibikin korban
Pelacur-pelacur
kota Jakarta
Berhentilah
tersipu-sipu
Ketika
kubaca di koran
Bagaimana
badut-badut mengganyang kalian
Menuduh
kalian sumber bencana negara
Aku jadi
murka
Kalian
adalah temanku
Ini tak
bisa dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut
badut
Mulut-mulut
yang latah bahkan seks mereka politikkan
Saudari-saudariku
Membubarkan
kalian
Tidak
semudah membubarkan partai politik
Mereka
harus beri kalian kerja
Mereka
harus pulihkan darjat kalian
Mereka
harus ikut memikul kesalahan
Saudari-saudariku.
Bersatulah
Ambillah
galah
Kibarkan
kutang-kutangmu dihujungnya
Araklah
keliling kota
Sebagai
panji yang telah mereka nodai
Kinilah
giliranmu menuntut
Katakanlah
kepada mereka
Menganjurkan
mengganyang pelacuran
Tanpa
menganjurkan
Mengahwini
para bekas pelacur
Adalah
omong kosong
Pelacur-pelacur
kota Jakarta
Saudari-saudariku
Jangan
melulur keder pada lelaki
Dengan
mudah
Kalian bisa
telanjangi kaum palsu
Naikkan
tarifmu dua kali
Dan mereka
akan klabakan
Mogoklah
satu bulan
Dan mereka
akan puyeng
Lalu mereka
akan berzina
Dengan
isteri saudaranya.
RENDRA
Sajak Burung-burung Kondor
Pelacur-pelacur
Kota Jakarta
Dari kelas
tinggi dan kelas rendah
Telah
diganyang
Telah
haru-biru
Mereka
kecut
Keder
Terhina dan
tersipu-sipu
karena
Sesalkan
mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan
kau lewat putus asa
Dan
kaurelakan dirimu dibikin korban
Wahai
pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang
bangkitlah
Sanggul
kembali rambutmu
Karena
setelah menyesal
Datanglah
kini giliranmu
Bukan untuk
membela diri melulu
Tapi untuk
lancarkan serangan
Karena
Sesalkan
mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan
kaurela dibikin korban
Sarinah
Katakan
kepada mereka
Bagaimana
kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana
ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang
perjuangan nusa bangsa
Dan
tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut
kau inspirasi revolusi
Sambil ia
buka kutangmu
Dan kau
Dasima
Khabarkan
pada rakyat
Bagaimana
para pemimpin revolusi
Secara
bergiliran memelukmu
Bicara
tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil
celananya basah
Dan
tubuhnya lemas
Terkapai
disampingmu
Ototnya
keburu tak berdaya
Politisi
dan pegawai tinggi
Adalah
caluk yang rapi
Kongres-kongres
dan konferensi
Tak pernah
berjalan tanpa kalian
Kalian tak
pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran
kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan
yang mengekang
Dan telah
lama sia-sia cari kerja
Ijazah
sekolah tanpa guna
Para kepala
jawatan
Akan
membuka kesempatan
Kalau kau
membuka kesempatan
Kalau kau
membuka paha
Sedang
diluar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan
macet
Lapangan
kerja tak ada
Revolusi
para pemimpin
Adalah
revolusi dewa-dewa
Mereka
berjuang untuk syurga
Dan tidak
untuk bumi
Revolusi
dewa-dewa
Tak pernah
menghasilkan
Lebih
banyak lapangan kerja
Bagi
rakyatnya
Kalian
adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan
Namun
Sesalkan
mana yang kau kausesalkan
Tapi
jangan kau lewat putus asa
Dan kau
rela dibikin korban
Pelacur-pelacur
kota Jakarta
Berhentilah
tersipu-sipu
Ketika
kubaca di koran
Bagaimana
badut-badut mengganyang kalian
Menuduh
kalian sumber bencana negara
Aku jadi
murka
Kalian
adalah temanku
Ini tak
bisa dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut
badut
Mulut-mulut
yang latah bahkan seks mereka politikkan
Saudari-saudariku
Membubarkan
kalian
Tidak
semudah membubarkan partai politik
Mereka
harus beri kalian kerja
Mereka
harus pulihkan darjat kalian
Mereka
harus ikut memikul kesalahan
Saudari-saudariku.
Bersatulah
Ambillah
galah
Kibarkan
kutang-kutangmu dihujungnya
Araklah
keliling kota
Sebagai
panji yang telah mereka nodai
Kinilah
giliranmu menuntut
Katakanlah
kepada mereka
Menganjurkan
mengganyang pelacuran
Tanpa
menganjurkan
Mengahwini
para bekas pelacur
Adalah
omong kosong
Pelacur-pelacur
kota Jakarta
Saudari-saudariku
Jangan
melulur keder pada lelaki
Dengan
mudah
Kalian bisa
telanjangi kaum palsu
Naikkan
tarifmu dua kali
Dan mereka
akan klabakan
Mogoklah
satu bulan
Dan mereka
akan puyeng
Lalu mereka
akan berzina
Dengan
isteri saudaranya.
RENDRA
Sajak Burung-burung Kondor
lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas,
dan akhirnya berumah di daun-daun tembakau.
Kemudian hatinya pilu
melihat jejak-jejak sedih para petani – buruh
yang terpacak di atas tanah gembur
namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya.
Para tani – buruh bekerja,
berumah di gubug-gubug tanpa jendela,
menanam bibit di tanah yang subur,
memanen hasil yang berlimpah dan makmur
namun hidup mereka sendiri sengsara.
Mereka memanen untuk tuan tanah
yang mempunyai istana indah.
Keringat mereka menjadi emas
yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa.
Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan,
para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,
dan menjawab dengan mengirim kondom.
Penderitaan mengalir
dari parit-parit wajah rakyatku.
Dari pagi sampai sore,
rakyat negeriku bergerak dengan lunglai,
menggapai-gapai,
menoleh ke kiri, menoleh ke kanan,
di dalam usaha tak menentu.
Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,
dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai,
dan sukmanya berubah menjadi burung kondor.
Beribu-ribu burung kondor,
berjuta-juta burung kondor,
bergerak menuju ke gunung tinggi,
dan disana mendapat hiburan dari sepi.
Karena hanya sepi
mampu menghisap dendam dan sakit hati.
Burung-burung kondor menjerit.
Di dalam marah menjerit,
bergema di tempat-tempat yang sepi.
Burung-burung kondor menjerit
di batu-batu gunung menjerit
bergema di tempat-tempat yang sepi
Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu,
mematuki batu-batu, mematuki udara,
dan di kota orang-orang bersiap menembaknya.
Djogja, 1973
Potret Pembangunan dalam Puisi
Sajak Sebatang Lisong
menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka
matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak - kanak
tanpa pendidikan
aku bertanya
tetapi pertanyaan - pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis - papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan
delapan juta kanak - kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
..........................
puisi-puisi khalil gibran
Unknown | Sabtu, Februari 25, 2012 | puisi Be the first to comment!
SAYAP-SAYAP PATAH
Namun, sekarangkah saatnya kehidupan akan memisahkan kita agar engkau bisa memperoleh keagungan seorang lelaki dan aku kewajiban seorang perempuan?
Untuk inikah maka lembah menelan nyanyian burung bul-bul ke dalam relung-relungnya, dan angin memporakporandakan daun-daun mahkota bunga mawar, dan kaki-kaki menginjak-injak piala anggur?
Sia-siakah segala malam yang kita lalui bersama dalam cahaya rembulan di bawah pohon melati, tempat dua jiwa kita menyatu?
Apakah kita terbang dengan gagah perkasa menuju bintang-bintang hingga lelah sayap-sayap kita, lalu sekarang kita turun ke dalam jurang?
Atau tidurkah cinta ketika ia mendatangi kita, lalu, ketika ia terbangun, menjadi marah dan memutuskan untuk menghukum kita?
Ataukah jiwa-jiwa kita mengubah angin malam yang sepoi menjadi angin ribut yang mengoyak-ngoyak kita menjadi berkeping-keping dan meniup kita bagai debu ke dasar lembah? Kita tak melanggar perintah apa pun; kita pun tak mencicipi buah terlarang; lalu apa yang memaksa kita meninggalkan sorga ini?
Kita tidak pernah berkomplot atau menggerakkan pemberontakan, lalu mengapa sekarang terjun ke neraka?
Tidak, tidak, saat-saat yang menyatukan kita lebih agung daripada abad-abad yang berlalu, dan cahaya yang menerangi jiwa-jiwa kita lebih perkasa daripada kegelapan; dan jika sang prahara memisahkan kita di lautan yang buas ini, sang bayu akan menyatukan kita di pantai yang tenang, dan jika hidup ini membantai kita, maut akan menyatukan kita lagi.
Namun, sekarangkah saatnya kehidupan akan memisahkan kita agar engkau bisa memperoleh keagungan seorang lelaki dan aku kewajiban seorang perempuan?
Untuk inikah maka lembah menelan nyanyian burung bul-bul ke dalam relung-relungnya, dan angin memporakporandakan daun-daun mahkota bunga mawar, dan kaki-kaki menginjak-injak piala anggur?
Sia-siakah segala malam yang kita lalui bersama dalam cahaya rembulan di bawah pohon melati, tempat dua jiwa kita menyatu?
Apakah kita terbang dengan gagah perkasa menuju bintang-bintang hingga lelah sayap-sayap kita, lalu sekarang kita turun ke dalam jurang?
Atau tidurkah cinta ketika ia mendatangi kita, lalu, ketika ia terbangun, menjadi marah dan memutuskan untuk menghukum kita?
Ataukah jiwa-jiwa kita mengubah angin malam yang sepoi menjadi angin ribut yang mengoyak-ngoyak kita menjadi berkeping-keping dan meniup kita bagai debu ke dasar lembah? Kita tak melanggar perintah apa pun; kita pun tak mencicipi buah terlarang; lalu apa yang memaksa kita meninggalkan sorga ini?
Kita tidak pernah berkomplot atau menggerakkan pemberontakan, lalu mengapa sekarang terjun ke neraka?
Tidak, tidak, saat-saat yang menyatukan kita lebih agung daripada abad-abad yang berlalu, dan cahaya yang menerangi jiwa-jiwa kita lebih perkasa daripada kegelapan; dan jika sang prahara memisahkan kita di lautan yang buas ini, sang bayu akan menyatukan kita di pantai yang tenang, dan jika hidup ini membantai kita, maut akan menyatukan kita lagi.
puisi ku
Unknown | Sabtu, Februari 25, 2012 | puisi Be the first to comment!balada cinta
Rama sinta
Laksana cinta yang hakiki
Laksana cinta yang digariskan
Laksana cinta yang abadi
Romeo juliet
cinta yang muda
Cinta yang labil
Cinta yang berkorban
Rama sinta
Cinta
nan suci
Romeo juliet
Cinta bertabur konflik
Rama sinta
Cinta berharap kasih
Romeo juliet
cinta menunggu ajal;
Cinta laksana hidup
Dan Cinta laksana kematian
Cinta laksana
suka
Cinta pula laksana duka
Datang membawa tawa
Dan
Pergi membawa air mata
Tak ada suka tak ada duka
Tak ada
gores dalam kisah
Tak ada asa dalam harapan
Tak mungkin datang
tanpa tunggu
Tak mungkin bahagia tanpa derita
Dilema
aku berdiri di persimpangan jalan
di persimpangan cerita yang
akan terukir
dalam buku harian yang ku kenang kemudian,
semua
jalan mengarah satu tujuan pasti
tapi, aku yang menjadi ragu
karena
begitu banyak jalan yang semuanya mulus
tanpa kubangan dan
kerikil lepas,
mungkin itu hanya beberapa kilo meter
dan
selanjutnya akan terlihat mana yang benar-benar bagus
tapi aku
tak bisa melihat jalan mana yang sebenarnya bagus
walau hanya
beberapa meter dari kelopak mata ini.
aku pun tak boleh
hanya pasrah
dan membiarkan kaki ini melangkah
tanpa ada
pemandu yang mengarahkannya
aku harus memilih
dan
melangkahkan kaki kanan ini ke tujuan ku
bukan tujuan tukang
parkir,
tukang bakso,
atau pun orang yang di jalan
ini
tujuan ku dan ini pilihanku
"Bismillahirahmannirahim"
Sajak Orang Pinggiran
mereka mulai memakai topeng dan bercengkarama di pinggir
jalan
menghirup debu jalan yang sesak oleh asap kendaraan
dengan muka mengkilap mereka tetap berlarian dan berlarian
tertawa lepas bak tak ada perkara yang membelit mereka
... gitar, dan galon jadi teman mereka dikala terik dan dingin
mereka tak kenal lelah, hanya lapar yang mereka rasa
karena sejak diusir kemaren mereka belum bertemu piring
menghirup debu jalan yang sesak oleh asap kendaraan
dengan muka mengkilap mereka tetap berlarian dan berlarian
tertawa lepas bak tak ada perkara yang membelit mereka
... gitar, dan galon jadi teman mereka dikala terik dan dingin
mereka tak kenal lelah, hanya lapar yang mereka rasa
karena sejak diusir kemaren mereka belum bertemu piring
Minggu, 18 Desember 2011
intermezo
Unknown | Minggu, Desember 18, 2011 | puisi Be the first to comment!
Karya : Dwi Rahariyoso
Penyair
Aku
bukan pembuat tafsir yang tekun, sebab aku tak mengerti makna
Di
kepalaku hanya onggokan masa lalu, begitu majenun
Aku
pun percaya takdir adalah kesendirian yang dilahirkan oleh kepergian
Bukan
garis tangan. Bukan.
Meski kau kerap terbuai mulut peramal, toh
mereka tak pernah selesai
Dengan
nasib, bahkan ajal. Lantas siapa yang memelihara masa lalu?
Sungguh,
aku bukan pembuat tafsir yang tekun
Jika
kau telh membaca ayat-ayat terdahulu
Niscaya
tak ada lagi makna yang dicari, sesuatu yang lenyap
tak
kembali itulah puisi
Sorong, 2011
Rumah baru
Sesuatu yang karib di sunyi ini
Menyembunyikanmu dariku, mirip secuil fragmen
tanpa tokoh. Seolah aku benar-benar buta
—dengan telingaku belaka
aku
merasakan
Nafasmu
yang biru serupa laut; menghuni teluk ini
Meski
kita tak pernah berbincang tentang para pendatang
yang
kehilangan kampung halaman mereka, sungguh aku telah terbiasa
mengucap selamat tinggal
“Kopi, senja, dermaga, bir, nostalgia; semua itu
alangkah sempurna”
jujur,
aku begitu sengit kepadamu di dalam sunyi ini
Aku berharap menemukanmu atau sekedar nafas birumu itu
agar
segera kupecepat perjalananku—dalam termangu
2011
Semut
Aku
menggeletakkanmu ke lantai,
agar
kerumunan yang rukun itu merubungmu. berbondong dalam pekerjaan
yang
sibuk, beriringan-berurutan. rupanya hanya kesunyianmu yang membuat
kekal di sini, sebab ia begitu telaten menyalin
jejak-jejak.
satu demi satu.
Diam-diam
aku iri pada kesunyianmu,
dari segala
arah, menguar hingga ke seberang,
melebihi
daging bakar. gurih dan harum.
begitu
sakral aromamu hingga di penjuru bandar, kaum musafir telah siap dengan
sampan
dan keranjang, yang akan menukarmu dengan
permadani
warna dan candu. sungguh, mereka teramat khusyuk.
mengarakmu
hingga menemukan rumah bagi kepulanganmu.
maret,
2011
Kamar kosong
—kepada seorang kawan
Dalam
gerimis hilang bayang, senja luruh melebihi dingin
yang mengalir tiba-tiba di
pintu dan jendela. Udara berubah warna, abu-abu di selasar
antara
ruang tamu. tidak ada yang membekas.
setelah
kau tutup pintu dan lupa berpesan pada dingin
yang
membenammu
2011
Langganan:
Postingan (Atom)
Search
Follow me
Popular Posts
-
Siang itu saya mengunjungi kantor atau bisa dibilang kesekretariatan dari salah satu organisasi yang ada di kampus. Terjadi obrolan r...
-
Puisi Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Puisi (dari bahasa Yunani kuno : ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I cr...
-
SYARAT & KETENTUAN LOMBA Peserta Warga Negara Indonesia (WNI) baik yang berdomisili di Indonesia maupun diluar Negara Indonesia. Us...
-
Perkenalkan Nama saya Govinda atau mereka sering memanggil dengan panggilan Igo. Sebuah nama yang bagi sebagian orang akan terdengar absu...
-
by Stephen Boyd When someone says or writes something powerful or memorable, you might think, “Why couldn’t I say it like that?” Wel...
Blogger news
Kunjungi Juga
Blog Archive
tentang
puisi
(24)
cerpen
(21)
artikel
(19)
serba-serbi
(12)
tips
(9)
opini
(7)
kumpulan cerpen cinta
(5)
essai
(4)
lomba-lomba
(4)
sastra dunia
(4)
Did You Know?
(3)
berita
(3)
biografi
(3)
cerpen asing
(3)
public speaking
(3)
puisi cinta
(3)
tokoh
(3)
facebook
(2)
kumpulan pidato barack obama
(2)
FSTVLST
(1)
aksi dokter
(1)
bisnis online
(1)
cerita asal
(1)
cerpen islami
(1)
cerpen persahabatan
(1)
diary
(1)
intermezzo
(1)
kumpulam pidato Bung Karno
(1)
lukisan
(1)
motivasi
(1)
nonton konser
(1)
online marketing
(1)
pidato
(1)
puisi goenawan
(1)
sastrawawan
(1)
teknik jualan online
(1)


