Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 April 2013

sajak singkat

Unknown | Kamis, April 04, 2013 | Be the first to comment!
Rintik terdengar sayup dari balik penjara. Muncul, tenggelam. Jemari menelisik hati, kedalam batas sekokoh besi, aku tau ada yg salah disana. Yang batil tidak boleh menjadi hakiki...atau lebih baik mati. Melebur, kemudian tenang.
 
oleh : Este Ainun N 

Rabu, 06 Maret 2013

Lomba Puisi Nasional - IWC 2013

Unknown | Rabu, Maret 06, 2013 | | Be the first to comment!
SYARAT&KETENTUANLOMBA
  1. Peserta Warga Negara Indonesia (WNI) baik yang berdomisili di Indonesia maupun diluar Negara Indonesia. Usia 15 tahun sampai dengan 30 tahun.
  2. Memiliki Identitas diri berupa; KTP/SIM/Kartu Mahasiswa/Kartu Pelajar/Paspor, dll.
  3. Tema Lomba Puisi 2013"CERITA INSPIRATIF" dengan SubTema; Cinta, Persahabatan, Budaya, Pahlawan, Dll. 
  4. Peserta adalah perorangan (individu).
  5. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirim naskah sebayak 5 karya.
  6. Karya yang diikutsertakan harus merupakan hasil karya orisinil dari peserta kompetisi menulis lomba puisi IWC 2013 dan bertanggung jawab penuh terhadap hasil karyanya tersebut apabila dikemudian hari ditemukan adanya plagiasi (plagiat).
  7. Karya belum pernah dipublikasikan sebelumnya di penerbit indie maupun major, apabila hanya diposting dimedia elektronik seperti blog/notes facebook diperbolehkan mengikuti lomba IWC 2013. Dewan Juri berhak mendiskualifikasi jika menemukan karya puisi yang pernah dipublikasikan sebelumnya di penerbit indie maupun major.
  8. Panitia berhak menyeleksi semua tulisan yang masuk dan berhak tidak mempublikasikan tulisan yang mengandung unsur SARA, RAS, Porno, atau unsur lain yang dinilai kurang pantas dan kurang sesuai dengan etika dan serta melanggar terhadap segala perundang-undangan yang berlaku.
  9. Peserta membebaskan Otack menagement dan media partner serta perusahaan atau pihak-pihak manapun yang berhubungan dengan penyelenggaraan kompetisi/lomba ini  dari segala bentuk tuntutan dari pihak-pihak lain tersebut terkait dengan hasil karya peserta yang diikutsertakan di dalam lomba.
  10. Apabila di kemudian hari peserta melakukan pelanggaran atas ketentuan dan persyaratan lomba tertulis, dan terbukti merupakan karya plagiat/bukan hasil karya peserta sendiri, pemberian data yang keliru dan/atau tidak benar, maka peserta akan didiskualifikasi.

b            baca selengkapnya

Selasa, 05 Maret 2013

Mengenal puisi bagian 1

Unknown | Selasa, Maret 05, 2013 | | Be the first to comment!

Puisi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Puisi (dari bahasa Yunani kunoποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I create) adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.
Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas. Selain itu puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang membawa orang lain ke dalam keadaan hatinya.
Baris-baris pada puisi dapat berbentuk apa saja (melingkar, zigzag dan lain-lain). Hal tersebut merupakan salah satu cara penulis untuk menunjukkan pemikirannnya. Puisi kadang-kadang juga hanya berisi satu kata/suku kata yang terus diulang-ulang. Bagi pembaca hal tersebut mungkin membuat puisi tersebut menjadi tidak dimengerti. Tapi penulis selalu memiliki alasan untuk segala 'keanehan' yang diciptakannya. Tak ada yang membatasi keinginan penulis dalam menciptakan sebuah puisi. Ada beberapa perbedaan antara puisi lama dan puisi baru
Namun beberapa kasus mengenai puisi modern atau puisi cyber belakangan ini makin memprihatinkan jika ditilik dari pokok dan kaidah puisi itu sendiri yaitu 'pemadatan kata'. kebanyakan penyair aktif sekarang baik pemula ataupun bukan lebih mementingkan gaya bahasa dan bukan pada pokok puisi tersebut.
Didalam puisi juga biasa disisipkan majas yang membuat puisi itu semakin indah. Majas tersebut juga ada bemacam, salah satunya adalah sarkasme yaitu sindiran langsung dengan kasar.
Dibeberapa daerah di Indonesia puisi juga sering dinyanyikan dalam bentuk pantun. Mereka enggan atau tak mau untuk melihat kaidah awal puisi tersebut.

 

Kamis, 05 Juli 2012

puisi pemenang pertama lomba cipta puisi FOSIL 2012 (via facebook)

Unknown | Kamis, Juli 05, 2012 | Be the first to comment!

RENTETAN SEMUT BERSENJATA

karya Ridha Ayah Bunda Aeni
Tangan menggenggam senapan
Anak panah tertancap diujung tombak badan tergeletak
Bius bom atom meracuni setiap pandang mata curam 

Lihatlah!
Rentetan semut bersenjatapun gugur
Tubuh berderai berlumpur darah, berteriak; merdeka tanpa penjajah


Tunas-tunas telah tumbuh
Penghianat harus musnah melepuh
Kobarkan debur juang; rentetan semut bersenjata


Tanah subur, air surga
Genggamlah erat persatuan nusa bangsa
Berdiri kokoh diatas kibar bendera


sumber http://sajakharapan.wordpress.com/2012/07/04/puisi-pemenang-pertama-lomba-cipta-puisi-fosil-2012-via-facebook/

Senin, 02 Juli 2012

Dulu, sastra pernah berkata padaku oleh Alfandi

Unknown | Senin, Juli 02, 2012 | Be the first to comment!

Kursi adalah sendiri.
Tempat duduk misteri.
Dalam keramaian sunyi.
Selalu saja sepi dan sendiri.

Sastra adalah kaca.
Mencerminkan sebuah jiwa.
Tenang dalam pelayaran.
Mencari jati diri sebenarnya.

Sastra pernah berbisik padaku.
“jaga kursi ini..
Inilah jati dirimu.
Engkau adalah kursi.
Jaga kesendirianmu.
Karena engkaulah kursi!”

sumber http://sajakharapan.wordpress.com/2012/04/26/dulu-sastra-pernah-berkata-padaku/

Minggu, 01 Juli 2012

fragmen pulau hitam oleh Dwi Raharioso

Unknown | Minggu, Juli 01, 2012 | Be the first to comment!
Sepenggal Bulan di Langit Desember
:Linternationale instrument
Kami mendengarmu, suara bulan yang separuh
Di antara ranting pohon yang tak lagi utuh
Kotamu telah begitu jauh, ke seberang teluk ini
Kami harus bersampan di hari yang gelap
Ketika semua harus mengendap

Sabtu, 30 Juni 2012

Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta

Unknown | Sabtu, Juni 30, 2012 | Be the first to comment!



 Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu

Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban



Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban

penggalan subtil; jika aku mati oleh Dwi raharioso

Unknown | Sabtu, Juni 30, 2012 | Be the first to comment!
Jika aku mati

jika aku mati kelak, tidak ada yang tertinggal untuk kuwariskan, selain puisi ini
jika aku mati kelak, saat itulah aku bertemu sepi yang sesungguhnya
dan pelahan-lahan kau melupakanku
jika kelak aku tak ada lagi di sini,
maka kuburlah puisi ini dalam deras hujan yang turun diam-diam

Jika aku mati kelak dan kau masih mengingatku
Maret 2012

Tentang Hujan

aku mendengar sepi berjatuhan dalam hujan
seperti tak tertahan
warna hitam dan segala yang terlepaskan,
hanyalah diriku
dingin udara nafasku
adalah sepenggal bait pendek tanpa pintu
tanpa rindu

aku mendengar hujan sepertiku. Sendiri.
membelenggu

Maret, 2012


Pemahat Pisau

Dengarkan, ia bercerita tentang bara
di sebuah desa terpencil tanpa nama
ketika senja memerah kesumba

Aku telah memahat nasibku
—seumpama empu
dalam sebilah besi dan gagang kayu
maka, kubentuk nasib ini
ke arah maghrib yang sunyi

Kusatukan nubuat ini satu-persatu
tatkala hari kembali dalam warna abu
dan bara membiru

Sejarah adalah senjata—dikuasai luka
maka, kuriwayatkan liku hidupku
serupa hikayat dan tamsil
lihatlah, ujung tajam ini—mengucilmu
dalam suasana yang sentimentil

Dan inilah tubuhku
meruncingmu belaka
hingga hampa benar-benar
kaku tak berwarna

2012


Tuan Kupu-Kupu

Seperti apa lelaki? Katamu, ia diciptakan dari
Penggalan-penggalan sunyi.
Dan ia tidak bertanya, kepada siapa kesenangan
Dituntaskan, melainkan hanya bergema
Dalam sebuah rahasia

Bilamana ia menemukan cinta,
Tiadalah hanya pada pahit kopi dan pekat malam
Belaka. Itulah rumah sesungguhnya.

2012

Cerita Tentang Kotamu

menatap kotamu dalam segelas hujan
lampu-lampu jatuh berpijaran
kenangan yang merembes kesendirian
di antara pintu dan jendela kaca,
warna gelap bertambah samar
kitalah kematian dalam bayang-bayang malam
lalu jatuh,
dilupakan

2012


Penari Topeng

Bebaskan aku, menuju langitmu
sebelum kematian merenggutku

dan fragmen tarian
akan membawaku pulang dari tubuh ini

aku berumah dalam usia
pada nubuat senja

begitu tuhan membaginya lewat angin
debu-debu tubuhku sampai di tanah ini

bebaskan aku, kembali padamu
sebelum hari membakar kayu

dan rindu berubah latu
itulah kenapa bara tak sekekal dulu

sebab aku akan segera pergi
begitu wajahku terisi sunyi

2012


Revolusi

setiap pagi aku mati
dalam letusan-letusan sunyi
radio, buku puisi, senjata, bendera, dan segala yang tak bernama
berwujud peluru
menghentikanku

seorang presiden mengasingkan diri; ketika demonstrasi
begitu tiba-tiba. rakyat hanya tertawa, ketika mahasiswa membakar ban
dan langit menurunkan hujan
aparat memukuli mereka dengan pentungan
aku menelanjangi tubuhku—kaku

2012

fb http://www.facebook.com/dwirahariyoso

tamsil perjalanan oleh Dwi Raharioso

Unknown | Sabtu, Juni 30, 2012 | Be the first to comment!
Barangkali Kita Memang Berada di Sebuah Negeri Asing
Kita selalu bertanya di mana ujung hari sebenarnya? Dan kita tak pernah berkata-kata, selain wabah malaria yang merenggut segala perjumpaan. Barangkali memang akan terasa hampa, jika senja seperti tergerus tiba-tiba dan kau tak sempat melambaikan tangan. Maka, akan terdengar angin yang luruh, menyerah. Di daerah perbatasan antara hutan dan setapak, nasib seolah tak beranjak.
Rumputan dan padang kelabu, suram dalam warna tak tentu. Mengenang dermaga kecil yang jauh—di lereng bukit itu. Aku berkata padamu, kebahagiaan adalah masa lalu yang disamarkan gelombang pada dinding batu-batu. Juga sepucuk kartu pos buram yang terselip di dalam noken, entah siapa yang mengirimnya. Barangkali dari negeri letih tak bernama, atau seorang pengembara yang tersesat—kerapkali kita mabuk romansa. Dan tiang-tiang dermaga telah patah oleh dingin, ditinggalkan nubuat yang ingkar pada angin.
Lalu, apa sebenarnya rindu dalam pekat ini? Barangkali hanya namamu yang merasukku. Hingga akhirnya masing-masing kita tak ada, tak pernah ada untuk ingatan. Juga sebait syair perpisahan, tentang tanda, bekas, jejak, sisa, dan fana.
Maghrib sayup-sayup meresap, seperti mengingatkan tentang revolusi. Dan kau tak bergeming dalam hening. Hutan-hutan gerilya tak lagi terjaga, gerimis turun tiba-tiba. Di jalan setapak, bergegas kutinggalkan dermaga. Gelap ini benar-benar tak bernama.
Sorong, 2012


Nukilan Mei
Aku menyerupai danau dalam biru semata; damai yang fana
kugambarkan burung-burung terbang dan ranting-ranting menjulang hampa
ketika daun-daun gugur tanpa warna

Sungguh, aku tak pernah melihat surga atau apapun keindahan sebenarnya
terkecuali lukisan belaka, warna-warna itu berubah nyeri
di musim yang senyap; kosong mengubur diri

Aku, akar, pohon, dan akanan hanyalah kenangan
di wajahku yang sunyi dan beku, musim membekas diam-diam
dan lupa adalah kegetiran jika langit berangsur malam

Dan di beberapa akhir sajak, pohon-pohon itu lekas mati
memutih di tepi danau yang beku
—aku sudah tidak ada, di situ bersamamu

Mei 2012


Kelahiran

Kita telah berdoa dalam sebuah nama, seperti Tuhan menyeru hambanya
di tembok dan kitab, mereka mencatatnya
—sejarah adalah nostalgia nama-nama
dalam huruf yang disucikan dan dikucilkan; sebuah kejadian bermula
dan darimanakah ia berasal?
di sebuah gua tak bernama, ia menjelma—senyap
lalu dalam dengus dan udara terbata
kedua tangannya meminta,
“Alangkah dingin dunia ini!” ia merintih, berpilin, menggeliat,
ketika ia gelisah, hari berubah basah
dan jendela kosong tanpa udara

Kemudian, di kesunyian, orang-orang tua membacakan sajak
tentang nama-nama kepergian
mereka lekas berangkat dalam gugup yang kesekian
dan tak ada seorang pun menduga

2012


Rumah Pulau 
                        Buat Aniku
Aku berumah pada sesak dan ombak
Di hamparan pasir tanpa karang; putih belaka
“Singgahlah, hai pengembara
Sebelum hari terasa suram, tajam mendesak”

Hanya gerimis sederhana yang kutawarkan
Juga beberapa kasbi dan segelas kopi

Dan udara semakin nihil kukira
Berhembus gigil dari arah jendela

—tak ada lagi cinta bagi mereka yang tua
Selebihnya sepi dalam sisa nostalgia

Setiap kali gelap memikat, di sanalah segala riwayat
Bersemayam atau berangkat, kita tidak mengerti

“Ah, hidupku sekedar menghabiskan sajak
Terkubur dalam bayang-bayang”

Tak ada yang terjadi lagi di sini
Terkecuali kesepian yang mengerak
Dan semakin menghilang

Mei, 2012


Pala

Di tanah-tanah tinggi dan teluk sunyi ini
Kapal dan sampan para syahbandar mengangkut ikan-ikan
Berderak dari burit hingga haluan

Lambaikan tangan pada bayangmu, kawan!
Kau akan singgah dan mendarat di tanah ini
Beberapa kedai kopi dan obrolan pengisi hari
Selalu hadir sepanjang pantai

Dengarlah, suara teluk yang memeluk kapal-kapal
Pertanda hari telah tua dan usang di ujung sana,
Udara mendadak dingin dan kita kunyah beberapa pinang
Semacam kenangan; obrolan-obrolan nelayan, amis ikan,
Dan juga senja yang kian melembayung-saga

Masihkah kita menjadi pengembara? Ah, kita teramat tua
Mengingatnya. Kopi dan kerinduan musim semi,
Adalah kepulangan bagi pulau ini

Pohon-pohon pala yang berwarna tembaga
Berpendar dalam cahaya senja, dan suar menara
Sebenarnya merayakan hidup bukanlah hal yang sia-sia
Aroma itu tercium hingga ujung beludru para pedagang eropa

—hikayat, rempah, tenun, kitab-kitab, kopi, ikan, ukiran, lanskap
Adalah riwayat nenek moyang kami berabad-abad lampau
Jauh sebelum para syahbandar barat mengembangkan layar
Ekspedisi mereka semacam praduga tentang rindu dan risau
Hingga laut menunjukkan mereka teluk ini, lewat pendar menara suar

Singgahlah, dalam senyap ini
Dalam ketuaan, kita tak lagi mengimpikan revolusi
Biarkan anak-anak itu yang bergegas melempar jangkar besi

Hingga para pedagang merapatkan kapal ke syahbandar
Butir-butir pala diangkut kapal-kapal besar dan tak pernah ada kabar
Di mana mereka menimbunnya?
Hari berangkat sepi, seperti getir belaka

Dan teluk masih terasa sejuk, ia seolah berkata lirih:
Inilah kampung halaman pengembara kabut
Kita sudah memutih, dan kerut-kerut kulit ini
Adalah senyum ketabahan yang sunyi
Setiap kali ada yang pergi tak kembali
Biarkan kami sendiri!

Sorong, Mei 2012


Di Sebuah Rumah

Di sebuah rumah—entah milik siapa,
Kita seperti pengembara yang hibuk tersesat arah angin,
Arah kiblat berubah pekat dan udara semakin dingin

Kita tak mengetuk pintu, bahkan mengucap salam
Sebab kita hanyalah sepasang diam—dalam jasad ini
Dan rindu tidak tenggelam menjadi sunyi

Di dinding papan itu menggantung lukisan tentang danau kering, sampan,
Udara dingin, serta kalender usang yang kehilangan hari liburnya
Siapa kita sebenarnya, mengapa kita saling mengingat

Kenangan ibarat pintu dengan engsel berkarat, kita teramat hati-hati
Menduga segala isyarat—kau dan aku, tak pernah sepakat bahwa kita hanyalah
Sepasang pengagum kesepian dalam sebuah kematian

Dari arah jendela, angin bersiur hampa
Hari sejenak senja dalam tiba-tiba
Segala nostalgia menembus sia-sia

Di sebuah rumah, dalam sejarah masa lalu tubuh kita
Barangkali akan kita ingat sunyi yang tersesat oleh hampa
Dan suara jam begitu baka

Akankah kita bergegas dalam sunyi?
Dan udara menggigil. Semua terasa ganjil
Kita hanyalah kabut yang segera lenyap, di suatu sudut terpencil

Mei, 2012


Tamsil

Dalam keheningan kata-katamu menjelma unta padang pasir
memuji sunyi yang silih berganti, dan larik-larik hangatmu menemukan kabutku
yang menyatu dalam hati setiap lelaki
Aku mendengar bisikmu melewati bukit-bukit biru, samudera sepi, dan sejumlah
pemburu yang tersesat di gurun hakekat—bulan runcing inikah isyarat?
Dan para muadzin yang terjaga membangunkan waktu, pasir, batu, ilalang, perdu;
langit ini adalah baka dalam tanda kuasaMu, terkecuali imam sesungguhnya
Lantas kulafalkan setiap kekal ke dalam kematian, begitu seterusnya
seperti sisa-sisa kerak yang menjelma debu dan memasuki tanah

2012


Kawah

dinding-dinding batu, hawa dingin menyatu
lanskap membiru
dan debu-debu menjadi sunyi
di pundak para pemikul batu
hari kembali pagi
menyatu dengan kabut
seperti daun bersemi
melupakan maut

Mei, 2012

Pertemuan

Barangkali kita tak lagi bertanya tentang kenangan, atau percakapan-percakapan senja, semua telah menjelma masa lalu; asing dan getar.
Barangkali waktu pun berubah senyap, ditikam malam yang tiba-tiba lenyap.
Kita tahu, pergi adalah nubuat tentang nasib, tentang segala pahit.
Hingga akhirnya kita pun mulai ingkar pada senja yang samar

Mei, 2012


Ketika Hujan Turun

Aku meminum kopiku ketika hujan menjadi kaca jendela
Dan membisikkan rintik-rintik berirama tentang dunia yang hampa
Lalu kutemukan dua baris puisi lama, membacanya bersama sepi
Seolah ketakutan berkobar di penjuru negeri
Tapi inilah revolusi—sesuatu yang diperjuangkan
Sebelum kematian, menggantikan kenangan
Dan hujan akan kembali deras
Menjadi dingin yang membekas

2012

Senin, 05 Maret 2012

puisi-puisi Taufiq Ismail

Unknown | Senin, Maret 05, 2012 | Be the first to comment!
LARUT MALAM SUARA SEBUAH TRUK
Oleh :

Taufiq Ismail

Sebuah Lasykar truk
Masuk kota Salatiga
Mereka menyanyikan  lagu
‘Sudah Bebas Negeri Kita’
Di jalan Tuntang seorang anak kecil
Empat tahun terjaga :
‘Ibu, akan pulangkah Bapa,
dan membawakan pestol buat saya ?’
(1963)


BAGAIMANA KALAU
Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam,
tapi buah alpukat,
Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat,
Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah,
dan kepada Koes Plus kita beri mandat,
Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi,
dan ibukota Indonesia Monaco,
Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas,
salju turun di Gunung Sahari,

Selasa, 28 Februari 2012

sajak orang kesepian

Unknown | Selasa, Februari 28, 2012 | Be the first to comment!
lampu kota bertahtahkan neon
menerangi pelataran ibu kota
dihiasi pula bus kebanggaan kota
yang dengan rajin hilir mudik
di depan hidung ku

aku termenung,
di kala haritelah beranjak larut
di kala keramaian semakin tampak
dan atraksi kota pun mulai dipentaskan

Sabtu, 25 Februari 2012

puisi-puisi sutardji calzoum bachri

Unknown | Sabtu, Februari 25, 2012 | Be the first to comment!
ANA BUNGA
Terjemahan bebas (Adaptasi) dari puisi Kurt Schwittters, Anne Blumme
Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri

Oh kau Sayangku duapuluh tujuh indera
Kucinta kau
Aku ke kau ke kau aku
Akulah kauku kaulah ku ke kau
Kita ?
Biarlah antara kita saja
Siapa kau, perempuan tak terbilang
Kau
Kau ? - orang bilang kau - biarkan orang bilang
Orang tak tahu menara gereja menjulang
Kaki, kau pakaikan topi, engkau jalan
dengan kedua
tanganmu
Amboi! Rok birumu putih gratis melipat-lipat
Ana merah bunga aku cinta kau, dalam merahmu aku
cinta kau

puisi-puisi w.s rendra

Unknown | Sabtu, Februari 25, 2012 | Be the first to comment!


Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta

Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu
karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban


Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban


Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu

Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya

Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna
Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada
Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi
Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya
Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan
Namun
Sesalkan mana yang kau kausesalkan
Tapi  jangan kau lewat putus asa
Dan kau rela dibikin korban
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Berhentilah tersipu-sipu
Ketika kubaca di koran
Bagaimana badut-badut mengganyang kalian
Menuduh kalian sumber bencana negara
Aku jadi murka
Kalian adalah temanku
Ini tak bisa dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut badut
Mulut-mulut yang latah bahkan seks mereka politikkan

Saudari-saudariku
Membubarkan kalian
Tidak semudah membubarkan partai politik
Mereka harus beri kalian kerja
Mereka harus pulihkan darjat kalian
Mereka harus ikut memikul kesalahan

Saudari-saudariku. Bersatulah
Ambillah galah
Kibarkan kutang-kutangmu dihujungnya
Araklah keliling kota
Sebagai panji yang telah mereka nodai
Kinilah giliranmu menuntut
Katakanlah kepada mereka
Menganjurkan mengganyang pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengahwini para bekas pelacur
Adalah omong kosong

Pelacur-pelacur kota Jakarta
Saudari-saudariku
Jangan melulur keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bisa telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya.

RENDRA


Sajak Burung-burung Kondor

Angin gunung turun merembes ke hutan,
lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas,
dan akhirnya berumah di daun-daun tembakau.
Kemudian hatinya pilu
melihat jejak-jejak sedih para petani – buruh
yang terpacak di atas tanah gembur
namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya.

Para tani – buruh bekerja,
berumah di gubug-gubug tanpa jendela,
menanam bibit di tanah yang subur,
memanen hasil yang berlimpah dan makmur
namun hidup mereka sendiri sengsara.
Mereka memanen untuk tuan tanah
yang mempunyai istana indah.
Keringat mereka menjadi emas
yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa.
Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan,
para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,
dan menjawab dengan mengirim kondom.

Penderitaan mengalir
dari parit-parit wajah rakyatku.
Dari pagi sampai sore,
rakyat negeriku bergerak dengan lunglai,
menggapai-gapai,
menoleh ke kiri, menoleh ke kanan,
di dalam usaha tak menentu.
Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,
dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai,
dan sukmanya berubah menjadi burung kondor.
Beribu-ribu burung kondor,
berjuta-juta burung kondor,
bergerak menuju ke gunung tinggi,
dan disana mendapat hiburan dari sepi.
Karena hanya sepi
mampu menghisap dendam dan sakit hati.

Burung-burung kondor menjerit.
Di dalam marah menjerit,
bergema di tempat-tempat yang sepi.
Burung-burung kondor menjerit
di batu-batu gunung menjerit
bergema di tempat-tempat yang sepi
Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu,
mematuki batu-batu, mematuki udara,
dan di kota orang-orang bersiap menembaknya.
Djogja, 1973
Potret Pembangunan dalam Puisi

Sajak Sebatang Lisong

menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak - kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan - pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis - papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan

delapan juta kanak - kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
..........................

puisi-puisi khalil gibran

Unknown | Sabtu, Februari 25, 2012 | Be the first to comment!
SAYAP-SAYAP PATAH

Namun, sekarangkah saatnya kehidupan akan memisahkan kita agar engkau bisa memperoleh keagungan seorang lelaki dan aku kewajiban seorang perempuan?

Untuk inikah maka lembah menelan nyanyian burung bul-bul ke dalam relung-relungnya, dan angin memporakporandakan daun-daun mahkota bunga mawar, dan kaki-kaki menginjak-injak piala anggur?

Sia-siakah segala malam yang kita lalui bersama dalam cahaya rembulan di bawah pohon melati, tempat dua jiwa kita menyatu?

Apakah kita terbang dengan gagah perkasa menuju bintang-bintang hingga lelah sayap-sayap kita, lalu sekarang kita turun ke dalam jurang?

Atau tidurkah cinta ketika ia mendatangi kita, lalu, ketika ia terbangun, menjadi marah dan memutuskan untuk menghukum kita?

Ataukah jiwa-jiwa kita mengubah angin malam yang sepoi menjadi angin ribut yang mengoyak-ngoyak kita menjadi berkeping-keping dan meniup kita bagai debu ke dasar lembah? Kita tak melanggar perintah apa pun; kita pun tak mencicipi buah terlarang; lalu apa yang memaksa kita meninggalkan sorga ini?

Kita tidak pernah berkomplot atau menggerakkan pemberontakan, lalu mengapa sekarang terjun ke neraka?

Tidak, tidak, saat-saat yang menyatukan kita lebih agung daripada abad-abad yang berlalu, dan cahaya yang menerangi jiwa-jiwa kita lebih perkasa daripada kegelapan; dan jika sang prahara memisahkan kita di lautan yang buas ini, sang bayu akan menyatukan kita di pantai yang tenang, dan jika hidup ini membantai kita, maut akan menyatukan kita lagi.

puisi ku

Unknown | Sabtu, Februari 25, 2012 | Be the first to comment!
balada cinta
Rama sinta
Laksana cinta yang hakiki
Laksana cinta yang digariskan
Laksana cinta yang abadi

Romeo juliet
cinta yang muda
Cinta yang labil
Cinta yang berkorban

Rama sinta
Cinta nan suci
Romeo juliet
Cinta bertabur konflik
Rama sinta
Cinta berharap kasih
Romeo juliet
cinta menunggu ajal;

Cinta laksana hidup
Dan Cinta laksana kematian
Cinta laksana suka
Cinta pula laksana duka

Datang membawa tawa
Dan Pergi membawa air mata
Tak ada suka tak ada duka

Tak ada gores dalam kisah
Tak ada asa dalam harapan
Tak mungkin datang tanpa tunggu
Tak mungkin bahagia tanpa derita

Dilema

aku berdiri di persimpangan jalan
di persimpangan cerita yang akan terukir
dalam buku harian yang ku kenang kemudian,

semua jalan mengarah satu tujuan pasti
tapi, aku yang menjadi ragu
karena begitu banyak jalan yang semuanya mulus
tanpa kubangan dan kerikil lepas,

mungkin itu hanya beberapa kilo meter
dan selanjutnya akan terlihat mana yang benar-benar bagus
tapi aku tak bisa melihat jalan mana yang sebenarnya bagus
walau hanya beberapa meter dari kelopak mata ini.

aku pun tak boleh hanya pasrah
dan membiarkan kaki ini melangkah
tanpa ada pemandu yang mengarahkannya

aku harus memilih
dan melangkahkan kaki kanan ini ke tujuan ku
bukan tujuan tukang parkir,
tukang bakso,
atau pun orang yang di jalan
ini tujuan ku dan ini pilihanku

"Bismillahirahmannirahim"

Sajak Orang Pinggiran

mereka mulai memakai topeng dan bercengkarama di pinggir jalan
menghirup debu jalan yang sesak oleh asap kendaraan
dengan muka mengkilap mereka tetap berlarian dan berlarian
tertawa lepas bak tak ada perkara yang membelit mereka
 

... gitar, dan galon jadi teman mereka dikala terik dan dingin
mereka tak kenal lelah, hanya lapar yang mereka rasa
karena sejak diusir kemaren mereka belum bertemu piring

Minggu, 18 Desember 2011

intermezo

Unknown | Minggu, Desember 18, 2011 | Be the first to comment!

Karya : Dwi Rahariyoso
Penyair

Aku bukan pembuat tafsir yang tekun, sebab aku tak mengerti makna
Di kepalaku hanya onggokan masa lalu, begitu majenun

Aku pun percaya takdir adalah kesendirian yang dilahirkan oleh kepergian
Bukan garis tangan. Bukan.

 Meski kau kerap terbuai mulut peramal, toh mereka tak pernah selesai
Dengan nasib, bahkan ajal. Lantas siapa yang memelihara masa lalu?

Sungguh, aku bukan pembuat tafsir yang tekun
Jika kau telh membaca ayat-ayat terdahulu

Niscaya tak ada lagi makna yang dicari, sesuatu yang lenyap
tak kembali itulah puisi

Sorong, 2011

Rumah baru

Sesuatu yang karib di sunyi ini

Menyembunyikanmu dariku, mirip secuil fragmen
tanpa tokoh. Seolah aku benar-benar buta


                                          —dengan telingaku belaka

                                                              aku merasakan
Nafasmu yang biru serupa laut; menghuni teluk ini

Meski kita tak pernah berbincang tentang para pendatang
yang kehilangan kampung halaman mereka, sungguh aku telah terbiasa

                                                                         mengucap selamat tinggal
“Kopi, senja, dermaga, bir, nostalgia; semua itu alangkah sempurna”

               jujur, aku begitu sengit kepadamu di dalam sunyi ini

Aku berharap menemukanmu atau sekedar nafas birumu itu
agar segera kupecepat perjalananku—dalam termangu

2011








Semut

Aku menggeletakkanmu ke lantai,
agar kerumunan yang rukun itu merubungmu. berbondong dalam pekerjaan
yang sibuk, beriringan-berurutan. rupanya hanya kesunyianmu yang membuat
kekal di sini, sebab ia begitu telaten menyalin jejak-jejak.
satu demi satu.
Diam-diam aku iri pada kesunyianmu,
dari segala arah, menguar hingga ke seberang,
melebihi daging bakar. gurih dan harum.
begitu sakral aromamu hingga di penjuru bandar, kaum musafir telah siap dengan
sampan dan keranjang, yang akan menukarmu dengan
permadani warna dan candu. sungguh, mereka teramat khusyuk.
mengarakmu hingga menemukan rumah bagi kepulanganmu.

maret, 2011


Kamar kosong
                      —kepada seorang kawan

Dalam gerimis hilang bayang, senja luruh melebihi dingin
yang mengalir tiba-tiba di
pintu dan jendela. Udara berubah warna, abu-abu di selasar
antara  ruang tamu. tidak ada yang membekas.
setelah kau tutup pintu dan lupa berpesan pada dingin
yang membenammu

2011

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Search

Blogroll

goresan pena. Diberdayakan oleh Blogger.

About