Tampilkan postingan dengan label essai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label essai. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Februari 2013

Shibuya

Unknown | Senin, Februari 25, 2013 | | | Be the first to comment!
penampakan kota shibuya pada pagi hari, nampak kepadatan diseluruh sudut kota
Mungkin ini tiap hari terjadi di Tokyo:  di stasiun Shibuya, ribuan orang ke luar masuk peron atau berjalan dari gerbang barat menyeberang — dari tempat patung anjing Hachikō yang mati menunggui tuannya yang tak kunjung pulang, ke arah toserba “Shibuya 109″ yang membuka dengan meriah lebih dari 100   boutique.

Anak-anak muda masih seperti dulu. Mereka tak putus-putusnya bergerak riang, riuh, mengingatkan kembali gaya gyaru gadis-gadis a-be-ge tahun 1970-an yang mencoba melepaskan diri dari sikap jinak dan konformitas. Tapi, pada saat yang sama, mereka adalah bentuk konformitas yang baru
.
Di sini hidup adalah degup siang dan malam — terutama malam.  Setelah pukul 18, lampu-lampu iklan digital menegaskan bahwa yang gemebyar, yang mewah, yang meriah, adalah pertemuan antara hasrat dan kemustahilan. Kapitalisme busana menampakkan ambisinya di ratusan papan iklan dan layar DOOH dengan ukuran besar: di tubuh manusia kota, pakaian adalah pertarungan untuk menggapai satu mode yang modelnya terlampau rupawan untuk ditiru, tapi selalu ditiru. “A fashion is nothing but an induced epidemic.“  Saya kira George Bernard Shaw benar.

Epidemi itu terutama berkecamuk di kelimun seperti di Shibuya ini. Lebih dari setengah abad yang lalu David Riesman menulis The Lonely Crowd, tapi sampai sekarang observasinya masih kena: kalangan metropolis ini adalah orang-orang yang other-directed,  ”diarahkan-liyan”.  Bukan lagi  diarahkan tradisi. Juga bukan lagi digerakkan kecenderungan diri yang terbentuk sejak kecil.

Kamis, 28 Juni 2012

Mahasiswa Malaysia di Medan Lecehkan Indonesia

Unknown | Kamis, Juni 28, 2012 | Be the first to comment!
MEDAN- Mahasiswa asal Malaysia yang kuliah di Fakultas Kedokteran Univ Sumatera Utara dan rekannya memukul dan memaki warga Indonesia.

Pasalnya, tak terima tertabrak, rekan-rekan Asnawi (22), warga Jalan Setia Budi, yang merupakan mahasiswa asal Malaysia yang kuliah di Sumut ini memukul Dion (20), warga Jalan Jamin Ginting belakang Pasar Sore, Padang Bulan, Rabu (27/6) dini hari 02.00 WIB, di Simpang Jalan Dr Mansyur.


Berdasarkan data yang dihimpun Sumut Pos (Grup JPNN), Rabu dini hari di lokasi kejadian di Simpang Jalan Dr Mansyur, Medan, saat itu Dion bersama dengan rekan wanitanya yang sedang berboncengan melintas di Simpang Jalan Dr Mansyur, Medan.


Disaat yang bersamaan, muncul dari arah belakang Asnawi dan tiga rekannya yang berboncengan dengan menaiki dua sepeda motor. Tanpa sengaja Dion menabrak Asnawi dari belakang saat Asnawi hendak belok menuju ke arah Jalan Dr Mansyur.


Kamis, 15 Desember 2011

Sondang Hutagalung

Unknown | Kamis, Desember 15, 2011 | Be the first to comment!


Sunday, 11 December 2011
Pemuda itu tentu bukan “sekadar”membunuh dirinya.Ia menyulut diri sendiri di depan Istana Presiden. Tapi,seandainya kita melihat ia sebagai pelaku bunuh diri,apa yang kita bisa pahami?

Sebuah penelitian pernah mengatakan bahwa banyak kasus bunuh diri di negeri ini berhubungan dengan kemiskinan. Orang yang dihimpit kemiskinan memiliki lebih sedikit pintu untuk terbebas dari persoalan. Dunia cepat menutup diri bagi mereka.Maka, persoalan yang sederhana bagi orang lain yang punya kesempatan lebih banyak akan menjadi sangat besar bagi mereka.

Saya pernah bertemu dengan sepasang pengamen musik Jawa yang baru saja menyelamatkan seorang perempuan. Perempuan itu hendak membiarkan dirinya digilas kereta api.Ia hamil dan lelakinya tak mau bertanggung jawab.Tapi,pasangan pengamen itu juga baru saja kehilangan putra.Anak lelaki mereka,masih remaja,gantung diri karena patah hati. Tentu kita juga mendengar tentang pengusaha besar yang terjun dari tingkat tinggi apartemen atau hotel mewah.

Kita juga pernah mendengar tentang aparat bahkan rohaniwan yang bunuh diri.Juga remaja yang loncat bebas di dalam mal.Menganggap mereka konyol adalah hal yang sebaiknya jangan menjadi prioritas.Demikian juga mengutuk atau menyalahkan. Sebab,mereka tidak mencelakakan orang lain.Mereka melokalisir ketamatan pada diri sendiri. Kecuali makhluk itu keji betul bagai monster— misalnya Hitler, saya sedih setiap kali mendengar kasus bunuh diri.

Saya bertanyatanya apa sesungguhnya yang sampai membuat mereka betulbetul menghabisi nyawa sendiri. Waktu remaja,bukan tidak pernah tebersit bayangan untuk bunuh diri, hanya gara-gara tak bisa menyelesaikan urusan cinta. Tapi,tohitu cuma bayangan dan saya tak pernah berani melakukannya.Putus asa yang sedalam apa yang menyebabkan kenekatan.Dan mengapa tidak ada orangorang di sekelilingnya yang memberi pelipuran.

Tapi,Sondang Hutagalung tidak sekadar membunuh dirinya. Bunuh diri biasa umumnya dilakukan diam-diam. Atau,jika dilakukan di tempat umum,dengan cara yang instan— seperti terjun di tengah keramaian mal. Sondang,putra seorang supir taksi,membakar dirinya di depan Istana Presiden.Itu adalah sebuah pernyataan.

Jika dua anak yang dulu melompat ke lantai dasar mal boleh dibilang membuat pernyataan publik tapi tidak politis,pernyataan Sondang punya makna politis–apa pun itu.Seperti Mohamed Buoazizi, pedagang buah yang membakar dirinya di depan kantor gubernur di Tunisia,yang tidak hanya frustasi,tetapi juga membuat pernyataan bahwa nasib malangnya diciptakan oleh kekuasaan.

Maka,ia membakar diri di depan simbol kekuasaan itu.Ia membuat frustasinya menjadi pernyataan politik.Tindakan itu,tak dinyana, menyulut demonstrasi besar di negerinya hingga ke negara-negara Timur Tengah. Barangkali kita tidak bisa mengerti Sondang.Kita tidak tahu apa yang membuatnya frustasi sehingga harus membunuh diri.Sebab,kita hanya berpikir bahwa satu-satunya alasan bunuh diri adalah putus asa.Tapi,jangan-jangan ia tidak putus asa tentang dirinya sendiri.

Ia seorang aktivis mahasiswa.Tidak seperti Buoazizi yang tak bisa lagi berdagang dan terbelit utang.Tak seperti pengusaha yang terjun juga karena utang. Masa depannya sebetulnya bisa cerah.Jika ia tidak terusmenerus idealis,ia bisa menuruti jejak Gayus Tambunan dan menjadi kaya raya. Sejauh ini tak terlihat pada dirinya sendiri sesuatu yang pantas mengantarnya pada bunuh diri.

Tapi,jangan-jangan justru karena itu.Tindakannya semata- mata sebuah pernyataan politik.Keinginan untuk terjadi gelombang besar perubahan lagi ke arah kebaikan. Untuk itu,ia tidak gentar menyulut dirinya sendiri sebagai percikan pertama. Kita boleh setuju atau tidak setuju pada tindakannya, tentu saja.Tapi,kita sepantasnya berpikir adakah cara lain yang bisa ditempuh untuk sungguh-sungguh memperjuangkan perubahan? Dia sudah berteriak. sofian dwi

AYU UTAMI
Email: utami.ayu@gmail.com
Twitter: @BilanganFu       
sumber :http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/450602/  

Nasionalisme Indonesia Dalam "Ancaman"?

Unknown | Kamis, Desember 15, 2011 | Be the first to comment!
MOMENTUM Kebangkitan Nasional yang dikonstruksi pada tahun 1908 merupakan titik yang sangat signifikan bagi kemunculan bangunan nasionalisme, kesadaran untuk bersatu, serta menyatukan keinginan bersama untuk merekatkan elemen-elemen yang berbeda dalam satu naungan negara-bangsa yang bernama Indonesia. Dari momentum Kebangkitan Nasional 1908 tersebut, paling tidak terdapat dua faktor yang sangat signifikan bagi investasi Indonesia. Pertama, pemuda yang menunjukkan peran dan eksistensinya secara jelas untuk menjadi lokomotif perubahan yang heroik bagi tercapainya kemerdekaan dan perjalanan kenegaraan serta kebangsaan Indonesia pascakemerdekaan.

Pada konteks tersebut, semakin menegaskan bahwa pemuda memiliki posisi strategis dalam menggerakkan perubahan dan menciptakan sejarah baru bangsa ini atau paling tidak menjadi trend setter sejarah Indonesia. Hampir seluruh sejarah yang tercipta di negeri ini� dilakukan atas peran serta pemuda, seperti gerakan 1908, 1928, 1945, 1966, hingga 1998. Fenomena tersebut sekaligus menunjukkan betapa signifikannya keberadaan pemuda dalam konteks keindonesiaan.

Dari gugusan sejarah Indonesia yang jangan pernah dilupakan adalah bahwa kontribusi terbesar terbentuknya sejarah Indonesia karena adanya komitmen dan kesadaran yang tulus melalui peran pemuda di masa lalu. Namun, kita tentu tidak berharap bahwa roda sejarah harus terhenti karena pemuda Indonesia hari ini kehilangan vitalitas ekspresi perannya dalam perubahan keindonesiaan, menghadapi tantangan kesejarahan yang semakin berat, dengan kecenderungan sosial yang semakin masif dan dinamis.

Kedua, dari lembaran sejarah Indonesia berikutnya, secara faktual tertoreh kontribusi daerah-daerah dalam proses terbentuknya dan terpeliharanya konstruksi nasionalisme Indonesia. Melalui peran, komitmen, dan kesadaran yang tulus dari daerah, bingkai persatuan dan kesatuan nasional, dalam kerangka mewujudkan kemerdekaan dan memaknai arti kemerdekaan, sebagai pijakan bagi pembangunan bangsa yang menghimpun secara harmonis elemen-elemen daerah, dalam tujuan dan cita-cita bersama: memajukan Indonesia, dapat disepakati, dan diimplementasikan secara bersama.Komitmen dan ketulusan daerah dalam proses terbangunnya bangsa ini sangat tidak pantas untuk dipertanyakan kembali. Goresan tinta sejarah bangsa ini teramat berarti bagi komponen bangsa ini, terutama daerah. Eksistensi daerah saat ini tengah menampakkan keceriaannya, setelah sebelumnya tampak kusam akibat paradigma kekuasaan masa lalu,
yang memersepsi lahan sosial Indonesia dalam bingkai homogenisasi.

Pola tersebut selanjutnya menempatkan entitas daerah dengan segala bentuk, simbol, dan aktivitasnya sebagai sebuah ancaman bagi ikatan nasionalisme atau integrasi nasional. Mungkin penerapan kebijakan homogenisasi tersebut dianggap tepat, lantaran paham kedaerahan yang sempit terbukti di banyak negara menimbulkan persoalan yang berimplikasi bukan saja pada ancaman persatuan dan kesatuan nasional, namun juga terjebak dalam konflik sosial antaretnis berkepanjangan, yang pada akhirnya memorak-porandakan bangunan sejarah suatu bangsa.

Namun, fenomena daerah setelah beberapa waktu berjalan dapat menikmati "kebebasannya" dari kooptasi sentralisasi yang berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang, nyatanya belum berada dalam posisi yang kondusif. Kerap dalam beberapa peristiwa, masih didapatkan kecenderungan yang mempertentangkan pusat dan daerah. Sehingga muncul kecenderungan dekonstruksi nasionalisme bukan reformulasi nasionalisme yang menawarkan wajah nasionalisme yang lebih baik.

Mungkin juga fenomena tersebut sebagai akibat apresiasi dan kepentingan daerah yang belum terakomodasi dalam ruang yang semestinya. Sehingga kecenderungan-kecenderungan mengurangi dominasi kekuasaan pusat atas daerah tak bisa dihindari. Hanya, memang dalam beberapa hal, kerap dipandang melebihi takaran yang seharusnya.Peringatan Kebangkitan Nasional tahun ini (2006), idealnya mampu mengantarkan komponen bangsa ini pada kontemplasi terhadap eksistensi nasionalisme yang tengah berada dalam ancaman. Nasionalisme kita yang tengah berada dalam ancaman, paling tidak diindikasikan semakin panjangnya deretan persoalan kebangsaan, seperti besarnya utang luar negeri, fenomena memudarnya rasionalitas dan praktik kriminalitas sosial yang terus diperagakan dalam lahan sosial Indonesia sehingga muncul sebutan Republic of Horor atau Republic of Fear, menuntut Indonesia untuk memiliki apa yang disebut nasionalisme baru atau paling tidak merevitalisasi nasionalisme kita yang sesungguhnya dibutuhkan
bangsa ini agar menjadi sebuah keniscayaan.

Langkah ini barangkali bisa menjadi salah satu alternatif, yang mampu memberikan sumbangan penting untuk turut meminimalisasi pesimistis yang melanda sebagian besar warga negara, agar menempatkan kembali nasionalisme sebagai sesuatu yang dipahami bersama dalam berbangsa dan bernegara serta mempertahankan nasionalisme dari implikasi negatif globalisasi politik dan ekonomi.

Nasionalisme baru yang hendak ditumbuhkan, selain didorong kecenderungan adanya dekonstruksi berbagai hal, pada sisi lain dalam konteks keidealan, Indonesia memang belum menemukan bentuk nasionalisme yang "konkret", selalu berada dalam tahapan "pencarian bentuk" (metamorfosis).

Dalam pergumulan wacana seputar nasionalisme sejumlah ahli, semisal Cornelis Lay, mengungkapkan posisi
nasionalisme yang terimpit oleh dua kekuatan mahabesar: globalisasi dengan logika dan asumsi-asumsi universalitas, uniformitas, dan sentralisasinya dengan etno-nasionalisme yang berjalan ke arah sebaliknya.

Di tengah impitan arus besar tersebut, nasionalisme baru Indonesia mestinya memiliki cita-cita bersama yang
dirumuskan dalam good society, dengan memaknai masa lalu dan merumuskan masa depan dalam kesatuan gerak masa kini. Alangkah baiknya, untuk menopang proyeksi tersebut, mempertajam apa yang disebut prinsip kewarganegaraan (citizenship), yang memiliki daya seduksi yang sangat besar dalam memenuhi hasrat setiap komunitas dan umat manusia atas persamaan.

Mengapa citizenship layak mendapat perhatian dalam kerangka memperkuat nasionalisme kita? Paling tidak, citizenship merepresentasikan kehendak untuk mengusung partisipasi kualitatif masyarakat, untuk mencapai civil society. Barangkali kita akan sepakat bahwa tidak ada satu pun negara maju yang tidak berlandaskan masyarakat yang kualitatif dalam segala hal. Pun lantaran kewarganegaraan layak dimengerti sebagai jantung dari konsep nasionalisme.

Dengan demikian, semestinya mulai hari ini dan ke depan, kita harus kembali membenahi anyaman sejarah bangsa yang terkoyak di beberapa bagian. Membangun kembali keindahan sejarah melalui jalinan harmonis seluruh kekuatan bangsa, termasuk elemen-elemen daerah. Upaya mengonstruksi keindonesiaan kita yang lebih baik merupakan sesuatu yang sangat mungkin, seperti yang pernah dibuat pada tahun 1908, yang mampu mengumandangkan ikrar kebangsaan yang menjadi embrio kebangkitan nasional, dengan kekuatan nasionalisme kita.***

Oleh: Oleh Ir. H. M.Q. ISWARA
http://www.duniaesai.com/index.php/direktori/esai/48-sejarah/344-nasionalisme-indonesia-dalam-qancamanq.html
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Search

Blogroll

goresan pena. Diberdayakan oleh Blogger.

About