Aku baru membuka mata dan langsung saja berita “mogok” kerja para dokter menjadi penyambut pagi ku kali ini. Awalnya aku tidak begitu menggubris mengenai aksi mogok tersebut, ku piker hal ini adalah wajar. Tuntutan tidak terpenu, lalu memutuskan untuk membentuk sekumpulan orang lalu melakukan aksi demo. Berdiri di depan gedung Istana atau di Bundaran HI atau di depan gedung DPR/MPR.
Tapi ternyata isu – awalnya isu – ini berkembang luas.
Mereka – para pasien, politikus, dan masyarakat biasa – mulai mengkhawatirkan
aksi ini. Dengan terpaksa pun aku harus mencari tahu mengenai isu tersebut – sebagai
rujukan tulisan ini.
Isu “mogok” para dokter pun dengan cepat menjadi prioritas
utama para pemburu berita. Secara real-time mereka melakukan pemberitaan kepada
khalayak mengenai isu ini. Mulai dari tanggapan para politisi, pasien, hingga
lumpuhnya aktifitas beberapa rumah sakit.
Isu ini menjadi sangat menarik ketika twitter – dunia maya –
menjadi ladang opini. Para penghuni dunia maya ini berlomba-lomba memberika
sudut pandangnya mengenai aksi ini. Ada yang pro dan ada yang kontra. Sayangnya,
dukungan positif terhadap aksi ini hanya berasal dari segelintir kalangan dokter
itu sendiri, Orang biasa – bukan orang yang berlatar pendidikan dokter – justru
lebih mempertanyakan aksi ini. Mengapa hal ini bisa terjadi dan apa tujuannya?
Dengan bertanya kepada salah seorang teman, saya mendapat
sedikit gambaran tentang aksi ini – saya juga melakukan verifikasi data melalui
portal berita. Aksi solidaritas – saya menyebutnya seperti itu – yang dilakukan
oleh para aliansi dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini
ternyata berawal dari penjatuhan hukuman kepada dokter Ayu atas tuduhan malpraktek.